Sujud cinta Terkhir…

Prolog
ceritanya Seh Ini Dulu tu Pengen Atau Mo jadi Scenario / Script Untuk Film yang Akan kami Kerjakan🙂

—Sujud Cinta Terakhir

Mengisahkan tentang Adam [tokoh I], seorang mahasiswa pekerja di sebuah restoran indo-kairo. Barangkali Adam tak seberuntung beberapa kawan senegerinya di Mesir yang setiap bulan dapat kiriman dari orang tua. Adam harus kerja untuk bisa bertahan hidup. Sekalipun begitu, Adam terbilang seorang yang cerdas, punya cita2, kemauan, dan kerja keras. Orangnya cool, santun, tapi cukup humoris. Adam punya ketertarikan dengan filsafat, novel, dan fotografi. Sekalipun ia pekerja warung makan, tapi ia telah melahirkan beberapa buku di tanah air

Adam mempunyai pujaan hati. Iffa namanya [tokoh II]. Iffa pun mencintai Adam. Bagi Iffa, Adam adalah lelaki unik, yang sangat tidak lumrah dari lelaki kebanyakan—sebab keadaannya yang serba kekurangan [secara material] di satu sisi, tetapi justru ia mempunyai banyak (serba) kelebihan di sisi yang lain, yang tak dipunyai oleh banyak lelaki. Iffa juga gadis berkarakter: anggun, santun, cerdas—yang dalam beberapa hal punya banyak kesamaan dunia dengan Adam. Keduanya punya cita2 bersama: mempunyai perpustakaan dan sekolah gratis untuk orang2 tak mampu.

Adam dan Iffa bertemu untuk pertama kalinya di suatu tempo. Saat keduanya sama2 berada di perpustakaan Kairo [maktabah qahirah kubra]. Iffa dan Adam nda sengaja ketemu di depan perpustakaan—saat itu adam baru selesai dari perpus, sementara iffa baru aja mau masuk perpus. Adam bawa beberapa tumpuk buku di tangannya, terus nenteng kamera. Eee, keduanya tabrakan. Briak. Kamera dan buku2 adam jatuh. Keduanya terus mengemasi barang2 yang jatuh. Tapi sebab adam yang keburu2, akhirnya dia nda terlalu ngeh ama si iffa. Dan, sebab keburu2 itu pulalah, satu buku adam ketinggalan. Judulnya Edensor, novel best-seller tanah air karangan andrea hirata. Ternyata e ternyata, itu novel kesukaan iffa juga.

Beruntunglah, sebab di halaman pertama novel Edensor terbubuh nama dan nomer telpon: Adam Abdullah, 01033224678. Iffa pun menelpon Adam, hanya untuk mengembalikan novelnya yang tertinggal. Mulanya, adam yang mau ngambil ke tempatnya iffa, tapi nda bisa sebab ada halangan. Dan akhirnya, jadilah iffa yang nganterin buku itu ke tempatnya adam.

Di dalem kamer, adam lagi nulis makalah untuk jurnal, tentang sejarah filsafat islam dan pengaruhnya bagi peradaban eropa. Di kamernya adam banyak banget buku2-yang ternyata juga disukai sama iffa. Banyak juga koleksi2 fotografi dia yang dipajang sebage hiasan kamer. Di pertemuan di rumah adam itulah, keduanya kemudian lebih jauh saling diskusi [sebab iffa juga ternyata lagi nulis tentang sejarah kedokteran dalam tradisi arab-islam]. keduanya juga jadi saling tuker2an buku, dan sesekali pergi ke perpustakaan, taman kebudayaan, dan toko buku.

Dari situlah, cinta pun tumbuh di antara keduanya. Keduanya kemudian sepakat untuk menali komitmen, serta menali cita2 bersama: mempunyai perpustakaan dan sekolah gratis untuk orang2 tak mampu.

Iffa putri pertama dari seorang terpandang di kotanya, di tanah air. Entah sudah berapa puluh laki2 yang melamar Iffa, utamanya dari pihak keluarga kawan2 ayahnya sendiri. Dan mendadak, iffa dapat telpon dari tanah air. Ayah Iffa sakit keras. Ibu Iffa menyuruh Iffa pulang, dan sangat berharap bisa pulang bersama Adam, biar sekalian dapat segera mengkhitbah Iffa dan segera menikah. Tapi keadaan belum memudahkan semuanya. Iffa menjadi serba bingung. Dan pada akhirnya, ia harus mengambil keputusan. Ia harus mengalah untuk cintanya, dan lebih menghargai orang tuanya.

Satu

I

Adam sedang sibuk mencuci piring di warung tempatnya bekerja. Mendadak ia dapat telpon dari Iffa

Adam: ya fa …

Iffa: dam, setelah pulang nanti kita bisa bertemu tidak?

Adam: bisa .. bisa …

Iffa: Ada yang mau aku bicarakan …

Adam: ya, fa … bisa… bisa …

Iffa: ya udah, nanti aku yang ke sana …

Adam: ngga, ngga usah … biar aku saja yang nemuin kamu …

Iffa: aku masih di SIC sekarang, dam …

Adam: ya udah, biar nanti aku jemput.

Iffa: mmm … gini aja, kita ketemuan di taman jazira sehabis asar aja ya …

Adam: ok …

Iffa: ya udah … sampai nanti ya …

Adam: ok .. makasih …

[pembicaraan selesai]

II

Adam pergi ke taman Jazira. Di sana iffa udah nunggu. Ekspresi muka Iffa tampak sedih.

Adam: hei …

Iffa: … [hanya senyum. Itu juga dipaksain]

Adam: maaf, lama nunggu …

Iffa: nda. Aku baru aja nyampe kok. Gimana kerjanya hari ini?

Adam: cukup menyenangkan. Kenapa fa? Ada apa?

Iffa: ibu telpon lagi.

Adam: …

Iffa: ayah sakit keras, dam. Dan beliau kembali menegaskan harapannya …

Adam: fa, aku bukannya ngga tanggung jawab atas hubungan ini. Aku bukannya ngga mau melamar kamu. Tapi keadaan masih belum memungkinkan, fa. Keadaanku masih seperti ini. aku masih sangat belum mapan. Apa kata orang tua kamu nanti?

Iffa: materi nda terlalu penting dam …

Adam: bisa kasih aku waktu setahun lagi, setidaknya?

Iffa: dam, ayah sedang sakit keras. Aku juga serba salah. Tapi akhirnya, sepertinya aku yang harus mengambil keputusan sekarang, dam … aku harus mengalah atas prosesan kita, dan harus menghargai orang tua aku …

Adam: maafin aku, fa …

Iffa: nda dam. Justru aku yang minta maaf.

Iffa: … [tetep terisak]

Adam: [memberikan sapu tangan ato tissue ke iffa] …

Iffa: dua hari lagi aku harus pulang

III

Adegan iffa kemas2 barang sebelum pulang. Pas kemasd2 itulah, eeee, dia nemu buku Tarbiyyah Awlad yang dikasih sama adam. Itu buku bersejarah pisan. Menyimpan cita2 keduanya ketika nanti sudah menikah dan punya anak. Tapi, yah, akhirnya, cita2 ituh kudu mengalah euy sama kenyataan. Hiks hiks hiks T_T …

Begitu juga adam. Dia gelisah kaga karuan. Sartu sisi dia sangat cinta sama iffa, tapi di sisi lain dia uga harus mengalah sama keadaan oge. Haduuuhh. Bener2 …

Dan akhirnya, iffa pun pulang …

[nah, ntar adegan inih dikemas dalam sebentuk klip. Pada inget kan klipnya Because I’m Woman [KISS], klip korea yang bener2 melo ituh? Nah, ntar cerita adam dan iffa inih dikemas dalam bentuk klip model kiss ituh, sekaligus sebagai pembuka film. Gimanaaaaaa?]

IV

[setelah klip—pembuka selesai, mulailah cerita film]

Setting: potret kehidupan kairo [untuk perbandingan mungkin bisa dilihat filmnya YUI <jepang>, taiyono-utta]

Empat bulan kemudian ….

Tak ada kabar dari iffa. Adam pun berusaha ngelupain kenangan dia bersama iffa. Adam kembali pada pekerjaannya semula: pekerja warung makan, baca2 dan nulis2, jalan2 menjelajah dan fotografi.

Dan, dari sinilah cerita “Sujud Cinta Terakhir” bermula

Dua

I

[di rumah adam]

Adam serumah sama tiga orang temen lainnya: Udin, Diki, dan Makvi. Udin, tipe2 orang yang mirip bimo jomblo [hehehehe], tukang ngocol dia mah lah pokokna. Dia jago pisan masak. Diki, tipe orang yang … hhmm … nyufi, nyekel tasbih terus, dan rajin kuliah [azharis abbiissss]. Dan makvi, yang juga demen baca dan nulis. Makvi tipe2 mahsiswa aktivis organisasi. Adam, makvi, dan seorang temen yang lain lagi [faizin] aktif di Rumah Kinanah; semacam halaqah diskusi, sastra, dan budaya sekaligus.

Makvi [sedang liat2 foto]: dam, gimana, temen2 udah dihubungi?

Adam [lagi kemas2]: untuk apaan?

Makvi: dasar pikun! Untuk eksibisi fotografi lah.

Adam: ooo, iya, iya … beres… udah semalem …

Makvi: kowe ini loh dam, dam. Udah empat bulan pikun ituh nangkring di dirimu. Bo yo jangan dipikirin terus …

Adam: emangnya mikirin apaan?

Makvi: halah, siapa lagi kalau bukan iffa … kasih tak sampai mu ituh … [sambil ngocol] … hahahahahahaha

Adam: hheeeuuuhhhhhh

Adam: ntar jadi sekalian ke saqiya kan?

Makvi: insyallah

Adam: tapi aku mau ke konsuler dulu ya …

Makvi: mau ngapain?

Adam: minta surat I’tidzar buat urusan visa

Makvi: telat berapa bulan emang?

Adam: dua

Makvi: udah dam, mending telatin aja skalian enem bulan. Terus abis itu ente ketangkep polisi. Nah, abis itu kan ntar ente dideportasi tuh. Pulang. Ketemu sama iffa … kekekekekekekekek ….

Adam: hhheeeuuuuhhhhhh

Adam: Aku berangkat dulu ya …

Adam pamitan ke diki [sedang duduk di atas sajadah, lagi baca muqarrar], juga pamitan sama pudin [sedang sibuk dengan hobi masaknya di dapur]

Adam: pak kiyai, saya pamit keluar dulu

Diki: oh, iya iya, hati2 di jalan. Jangan lupa banyak2 berzikir. :p

Adam: assalamu’alaikum

Diki: wa’alaikumsalam

Adam: koki, saya keluar dulu

Pudin: weeehhh, sek toh … aku lagi bikin bakwan Madura resep baru. Wenak, dam. Coba dulu nih …

Adam: hhoohh …. Boleh, boleh …

Pudin: [ketawa2 , berarap adam bilang .. enak euy masakannyah]

Adam: bbeeuuhhh …. Enak banget …

Pucin: gimana dam, bisa dipromosiin kan di warung makan bosmu?

Adam: hehehehehe … boleh lah … yuk, aku cabut dulu ..

II

[di konsuler]

Konsuler sepi. Adam ngisi formulir. Terus dia kebelet. Di meja konsuler, si adam ninggalin buku dan pulpennya. Lalu ngedadak datenglah Neng Isma [tokoh III]. Dia mahasiswi baru, mau lapor diri. Neng Isma nggak bawa pulpen ama buku. Eee, terus aja dia nyobek kertas buku si adam yang ketinggalan di meja ituh, terus make pulpennya adam [biar rada nyambung, neng isma ngedadak dapet telpon dari temnnya, ngasih tau nomer rekening]. Terus si adam dateng, ngeliat neng isma lagi nulis.

Adam biarin aja si neng Isma sampe selese nulis. Setelah itu, adam pun permisi mau ngambil pulpen dan buku yang dipegangin ama neng isma. Neng isma keliatan malu2. Ada yang bikin adam rada kaget ama neng isma, yaitu bros kerudung neng isma yang mirip rip sama bros kerudungnya iffa. Hhaahhhhhhh …..

Tapi ya sudahlah, toh hanya kebetulan, dan keduanya juga nda saling kenal. Adam langsung aja beranjak setelah nambil buku dan pulpennya dari isma. Dia langsung pergi tanpa pamit.

III

[Sepulang dari konsuler KBRI]

Adam punya janjian ama makvi dan faizin untuk berangkat ke saqiya el-sawi. Mereka janjian di mahattah gami’. Di mahattah, makvi udah kaliatan nungguin.

Adam lari2 …

Adam: sori2.. aku dari kbri dulu tadi …

Faizin: gak apa2. wong Makvi masih belum dateng [logat jawa]

Adam: kemana emang?

Faizin: katanya sakit perut. Tuh, dia lagi e’o’ di wc mesjid … [nunjuk wc mesjid jami’]

Adam: hahaha … dia mah banyakan makan jengkol lagian …

Faizin: hahahahaha. Eh, dam, entar sepulang dari saqiya kita mampir ke madbuli dulu gimana …

Adam: mau beli apaan?

Faizin: hajar jahannam ama kadal mesir

Adam: hahahahaha

Faizin: ya beli buku lah dam …

Adam: iye .. iye … maksutnyah beli buku apaan?

Faizin: tuntunan menjadi suami sholih [sambil niruin gaya ustadz2… hehehehe]

Adam: hahahahaha … muga2 tuhan memberimu petunjuk, nak …

Faizin: aku pengen beli novel ra’s husayn

Adam: dahsyat …

Faizin: loh, kamu udah pernah baca toh …??

Adam: sinopsisnya doang. Itu juga di internet

Faizin: gimana, bagus gak tuh novel?

Adam: hhmm … sangat tragis … semacam riwayat perjalanan kepala husain setelah dipenggal, dari satu orang ke orang yang lain, demi dapetin upeti dari Yazid, khalifah mu’awiyah yang nyuruh menggal kepala husain .. sampai cerita kepala itu dikuburkan …

Faizin: kayaknya seru tuh novel ..

Adam: pastinya …

Faizin: harganya berapa, dam??

Adam: meneketehe … emangnya guah yang dagang apah.

Lalu datenglah Makvi …. lari2 … bwa tas gendong ..

Makvi: waduuhh … ma’liys .. aku tadi mules bianget …

Faizin: astagfirullooohhh …. vviii … dasar kepet … ente belum cebok ya? Wuih … masih bau jengkol ente …

Makvi: asyyeemmm …

Makvi: gimana… langsung berangkat kita?

Adam: boleh .. boleh … mau naek dari mana? Dari sini apa sabi’?

Faizin: dari sabi’ aja yuk .. biar cepet …

Mereka pun berangkat ….

IV

Di saqiya … adam, Faizin, dan makvi liat2 exibisi.

Sampe akhirnya, ketiganya duduk2 di kafe saqiya, di tepian sungai nil …

makvi: wah, tempatnya asik banget nih saqiya…

Adam: dan lu percaya ga, vi, kalo taman budaya kaya gini disponsori penuh ama negara, juga ama sponsor2 yang emang punya andil ama kebudayaan anak bangsa mesir

makvi: masa sih?

Adam: ye .. dibilangin juga …

Faizin: wah … mesir cahuy juga yaaa .. walopun korup, tapi negara masih peduli ama kecerdasan dan kebudayaan anak bangsanya … liat aja … exibisi disponsorin… konser2 musik disponsorin …

Adam: btw, tadi pada liat nda si pameran lukisan ama fotografi?

Makvi dan gaizin: emang lu kata gua liat2 cewe2 mesir aja apah?

Adam: jhehehehehe … kaga2 .. gini sob; kebayang kaga, kalo misalkan, anak2 indo di sini yang punya kecenderungan ngelukis ama fotografi terus bisa dieksibisiin di sinih?

Kavi dan faizin: [mikir dulu ….. wahhhh, gile cuy, menarik2 … ide lu kalo kaya gini canggih juga, dam …

Adam: yeh, zin, gua mah emang aslinya dari dulu kaya gini … cuma .. hiks .. hiks … kaliannya ajah pada terbutakan oleh duniah …

makvi, adam, faizin ngakak : hahahahahahahahahahahaha ….

Adam: gini2 sob; si akhlis kan lukisannya gokil abis tuh … terus si tomas juga .. terus kan temen2 indo-kairo juga punya beberapa sanggar budaya, kaya LSBNU, Papyrus Muhammadiyyah, terus KOMPENI … kan kompeni pernah beberapa kali ngadain eksibisi fotografi di kulliyyah thibb taun2 lalu …

makv: waaahhh … ide menarik tuh ….

Adam: bulan2 kemaren, ada juga si band-nya anak indo [sic] yang konser di marih. Terus juga da’i nada pernah konser di sinih …

zin: kira2 atase pendidikan dan kebudayaan di KBRI bakalan apresiasi kaga ya kalo misalkan kita usul buat ngadain pameran kebudayaan anak2 indonesia di mari?

makv: hehehehehe … dulu gua pernah sih bilang ama pak mukhlason … tentang tempat ini juga …. eeeee… dia malah bilang gini: ooo, tempat yang pesing itu ya? Dasar pak mukhlason … gua santet ama dodol garut baru tau rasa diah …

makv, adam, gaizin ngakak lagi: hahahahahahahahahahaha

Adam: wish … inih udah mau jam 7 nih … apa nda kemaleman ke toko bukunya?

Makv n faizin: cabut tah?

Adam: ya udah, besok2 ke sini lagi masih bisa kan

Ketiganya pun beranjak dari saqiya …

di samping saqiya ada mesjid

faizin : akhi … nda mau shalat isya’ dulu tah?

Adam: hehehehe … gimana vi?

makv: hhaaahhh … kita kan mufasir … eehh .. musafir .,.,.

faizin: musafir nenek lu okem !!!! ngomong aja males …

makv: heh, Faizin, gua mah bukan males … tapi terbiasa shalat di akhir malam …

faizin: plikitiw! Buncis ijo! Ada juga lu ngacai Makv di akhir malam

makv: hehehehehe … kalo yang ngacai atasnya doang sih mending

faz: udah, udah, kita shalat dulu aja yu …

faizin narik makvi yang rada2 males masup ke mesjid …

Mereka pun shalat isya’ berjama’ah ….

V

Setelah shalat, ketiganya langsung ke wasath al-balad [down town]

Mereka naek mobil …

[adegan duduk di dalem mobil]

Ngedadak, si adam kaget. Dia inget kalo ternyata ada janji …

Adam: astagfirullooohhh … aku kelupaan …

faizin: kenapa dam? Lupa kalo utang ente banyak?

Adam: bukan … inih … aku janjian mau ketemu anak …

faizin: sama? Bos warung?

Adam: bukan. Bukan. temennya adekku di indo … dia bawa titipan ..

makv: anak baru?

Adam: iya ..

faizin: laki apa perempuan?

Adam: katanya si perempuan

faizin: hhmmm … hhhmmm … tinggal di mana dia?

Adam: katanya si di asyir juga … Cuma nda tau di mananya … kita janjiannya di bawabah

faizin: lah, emang belum ketemu sebelumnya ama dia?

Adam: belum ..

makv: lah terus gimana?

Adam: aku tinggal ya kalian …

faizin: sinting apa. Kita tuh nda tau lagi di daerah mana. Kan ini pertama kali kita ke sini.

Adam: hgehehehehe [sambil bingung]. Terus gimana dong?

makv: ya udah .. telpon aja dulu orangnya … minta maaf kalo nda bisa ketemuan malam ini

Faizin: sip. Usulan cerdas dam.

Adam: waduh .. gua boong dah …

Makv: lah, emang kenyataannya ente ada acara kan?

Adam: iya juga sih …

Adam mikir2..

Adam: oke deh, emang baiknya aku minta maaf aja … dan minta waktu lain untuk ketemuan …

Adam: aduh, tapi pulsaku abis …

makv: halah … nih, pake hp-ku aja …

Adam terus nelpon temen adeknya ituh. Ternyata itu adalah sin eng isma, yang tadi siang ketemu di konsuler. Dia gadis sunda. Sunda banget.

Adam: halo … assalamu’alaikum

Isma: iya … wa’alaikum salam

Adam: ini neng isma ya?

Isma: iya. Ini siapa ya?

Adam: ini adam, is …

Isma: eh, ka adam … jadi mau ke sini?

Adam: yah .. maaf deh is … sepertinya nda jadi … saya masih ada acara …

Isma: oo .. ya udah, nda apa2 … ntar kapan2 aja …

Adam: hehe … [mringis] .. sebenernya nda enak juga sih .. orang aku udah janji …

Isma: ya kalo ada halangan? Masa mau dipaksain si?

Adam: mmmm. Oke deh, kalo besok sore aja gimana ketemuannya?

Isma: mmm … besok sore ya? Insyallah deh bisa …

Adam: tapi nda di rumah Isma …. hehehehehehe

Isma: di mana terus kak?

Adam: di …. di warung makan …

Isma: ooo … kakak mau nraktir Isma nih? asiikk …

Adam: hehehehe [ketawa datar]

Isma: di warung makan mana kak?

Adam: basmalah. Tau kan?

Isma: tau .. Isma pernah kok makan sekali di sana …

Adam: ya udah … ntar besok sore ketemu di sana aja yaa …

Isma: insyallah …

[pembicaraan selesai]

makv: si Isma ntar ke warung kamu dam?

Adam: iya .. gimana lagi .. orang besok sore jadwal aku kerja …

faizin: halah dam … kamu inih loh … bo’ yo’ ditemuin aja ke rumahnya … wong kamu yang butuh sama dia …lah kamu … malah dia yang suruh nemuin kamu …

adam: hheehh … besok sore tuh jadwal kerja aku di basmalah … selese malem … yyaa .. nda ada salahnya juga si tu anak disuruh ke warung .. orang ntar juga aku ksih makan gratis …

makv: heheheheheh ….

zin: dam, ntar kalo cakep bilang2 ke aku yaa … sapa tau …

makv [motong omongan Faizin] : iya .. sapa tau lu ditolak untuk ke-99 kalinya zin … udah zin.. makhluk macam elu tuh kudunya tawakal …. tuh .. tuh .. liat tuh tampang luh di balik kaca mobil … udah kumis kaya gingseng juga ….

adam: hahahahahahaha … masih mending Makv kumisnya doang kaya gingseng … si faizin mah rambutnya aja kaya mie tek tek kebakar …

Makv: hahahahahaha … ho’oh zin … tinggal dikasih kuah, kecap ama saos …

faizin: assyyeeemmmm … assyyeeemmm ….

akhirnya, ketiganya turun di jalan alfi, terusan jalan tal’at harb, wasath al-balad …

VI

Adam, makv, dan faizin jalan nyusurin bilangan tal’at harb, sampe akhirnya nyampe di bundaran tal’at.

Faizin: wwaaiihhh ….. cuakep pooolll iiihh .. kayak di eropa …

Makv: halah Faizin … dasar katrok …… ini sih kayak di kampungku …

Faizin: kampungmu Makv? Hahahahahahaha … listrik udah masuk kampung mu aja udah mending Makv ….

Adam dan Makv: hehehehehehe …

Ketiganya berhenti di depan kafe groubby … liat bangunan2 berarsitektur eropa … menikmati suasana malam sebentar …. [pas momen2 kaya gini nih … biasanya kamera ituh muter2 … hehehehehehehe]

Adam: langsung aja yuk, masuk ke toko bukunya ….

Makv: ok..ok …

Ketiganya masuk toko buku madbouly, yang terletak di samping kafe groubby

Faizin nanya buku yang dicari ama penjaga toko

Faizin: fi riwayah ra’s husayn

Penjaga: hhoo … ffiii .. ‘aizu?

Faizin: bas .. ‘aiz shuff awwala ..

Penjaga: ‘aizz shuff awwala .. mesyi …

Penjaga ngambilin novelnya. Sementara Faizin, Makv, dan adam liat2 novel dan buku2 yang lain …

VII

[…. pembicaraan di dalam toko buku ….]

 

Sampe ketiganya pulang ….

Tiga

I

[besok paginya di rumah adam]

Adzan subuh. Diki paling duluan bangun. Diki bangunin temen2nya. Diki, pudin, makvi, dan adam mulai beraktivitas. Diki dan adam pergi keluar untuk beli sarapan [‘isy, ful, misya’ah, dan tha’miyyah]. Setelah itu mereka pun sarapan bareng.

Percakapan di tengah2 sarapan.

Pudin: wweeeuuhhh …. Ful-nya enak banget. Rasa2 bubur ayam.

Makvi: elu mah dasar tukang masak, din. Ful nda ada rasanya gini dikatain rasa bubur ayam.

Pudin: hehehehe … tergantung suasana hati men …

Diki: oia, hari ini ada jadwal mata kuliah tarikh tasyri’ ya?

Makvi: iya. jam pertama malah.

Diki: dosennya bener2 killer. Kita harus masuk kelas sebelum beliau datang. Soalnya kalau udah ngasih kuliah, pindtu ruangan dikunci, dan yang telat nda boleh masuk.

Pudin: aku gak berangkat wes. Males.

Makvi: gak apa-apa, din. Ente bikin bakwan Madura aja di sini.

Makvi: dam, mau berangkat ngga?

Adam: mmm … ayo …

II

[di kulliyyah]

Ternyata ketiganya dating telat. Jadilah nda bisa masuk.

[obrolan]

Diki mutusin pergi ke mesjid azhar.

Diki: ana mau ke shalat dhuha di azhar duu. Terus habis itu ziarah ke makam sayyidina Husain.

Sementara adam dan makvi milih pergi ke bilangan darb al-atrak di belakang azhar. Keduanya mau jalan2 ke toko buku.

Adam: iya deh, ntar di susul. Kita mau ke belakang dulu, nyari2 buku. Ntar langsung ke masjid azhar.

Adam dan makvi jalan2 di lorong darb al-atrak.

Di tengah2 jalan, makvi dapet telpon dari presiden ppmi untuk sebuah urusan organisasi. Nah, di tengah percakapan itu, makvi ngajuin proposal pameran fotografi dan lukisan di saqiya. Presiden pun mempertimbangkan.

III

[di darb al-atrak]

Di tengah jalan itu juga keduanya ngobrolin akhlis, pelukis berprestasi ituh.

Adam: Gimana, tembus gak proposalnya sama pak presiden?

Makvi: insyaallah.

Adam: lukisannya akhlis ngga kalah saing sama yang ada di galeri2.

Makvi: tapi denger2 akhlis mau pulang ‘ala thul.

Adam: kenapa emangnya vi?

Makvi: masalah ekonomi barangkali. menurut info yang aku terima si, dia nda dapet kiriman dari orang tuannya.

Adam: lah, emang aku dapet kamu pikir?

Makvi: ya nda gitu dam. Akhlis sambil kerja2 sambian juga sih. Dia pernah sama kaya kamu, kerja di warung makan.

Adam: ooo. Kalau kuliahnya gimana, dia?

Makvi: kuliahnya juga lancer. Walau pun predikatnya maqbul dan manqul. Hehehehe. Sama kaya kita sekarang, dia di tahun ke tiga juga.

Adam: wah, kasian juga ya.

Makvi: menurut catatn PPMI sih banyak yang ngalami nasib kaya akhlis … banyak juga yang akhirnya pulang ke tanah air sambil bawa harapan yang kandas. Lu beruntung dam, masih punya keinginan ama kerja keras buat bertahan hidup.

Adam: ya iya lah. Emang ada saat-saat hidup harus dilawan. Kata emak aku mah, gak gampang untuk dapetin apa yang kita harepin. Dan di tengah2 perjuangan ituh, kerap kali kita harus merasa perih, terpukul, sebab kadang2 takdir kerap berbicara lain.

Makvi: santai lah sob. Gua yakin ama Tuhan. Yang paling penting kita udah berusaha, juga nda lupa berdo’a. yakin sob, Tuhan maha mengerti. Dia sayang sama lu. Ibarat kata andera hirata, bermimpilah. Sebab tuhan akan memeluk mimpi2 kita. Dan lu pun sob, setelah perih2 dan keterpukulan itu, lu akan dapetin, apa yang selama ini lu perjuangin.

Adam: ckckckckckckckckck. Gilingan! Kalau kaya gini lu filosofi banget cing.

Makvi: yeh, dam, elunya aja yang kaga nyadar. Hehehehehe.

Adam: iya lah dam. Kalau nda yakin sama tuhan mah, gua udah bunuh diri kali. Hahahahahahahaha. Kalau kata ustadz ngaji gua mah: kunci hidup paling utama adalah syukur dan sabar. Ama keduanya, hidup jadi terasa lapang dan tenang.

Makvi: subhanallaaahhh. Kalau kaya gini lu ngustadz banget, dam.

Adam: dari dulu, vi. Hahahahaha. elunya aja yang kaga nyadar.

Adam dan makvi: hahahahahahahaha

Adam: oia, kembali ke akhlis. Atau tepatnya: mahasiswa indo di sini yang kekurangan, tapi punya keinginan dan prestasi. Masa yang kaya gini masa mau kita biarkan?

Makvi: ya nda lah sob! Makanya, seenggaknya, kita ngadain eksibisi di saqiya ini buat ngapresiasi mereka. siapa tau ada curator yang kemudian tertarik. Atau seenggaknya, karya2 mahasiswa sini yang sebenernya oke2, jadi bisa dilirik ama kbri. Bisa kan dijadiin bahan pameran kebudayaan. Jangan produk dagang mulu.

Adam: kalau coba hubungi pak atdikbud gimana vi?

Makvi: ya, mudah2an aja lah dia apresiasi.

Adam: btw, shalat zuhur dulu yuk ke mesjid.

III

[di mesjid azhar]

IV

[di rumah neng isma]

Neng isma nanya2 tentang adam sama lina, temen serumahnya yang lebih senior.

Isma: ceu, kenal sama adam nda?

Lina: adam? Sebentar … sebentar …

Isma:

V

Sorenya, adam sudah ada di warung makan. Dia kerja.

Rada2 maleman, isma dating. Bbeeuuuhhh, manis pisan eta si neng. Jreng, si adam kaget ternyata isma itu gadis yang ketemu kemaren hari di konsuler. Isa juga kget kalau itu adalah adam. Dan sama, isma make bros yang sama dengan brosnya iffa.

[percakapan adam dan isma]

Empat

I

[cerita adam dan isma yang semangkin akrab. Mulanya isma minta bimbingan sama adam. Adam hanya bisa ngebimbing sebisanya. Selebihnya ia serahkan sama makfi. Isma jadi tambah akrab dengan adam. Isma banyak mendapat banyak hal dari adam. keduanya sering diskusi, hunting fotografi, ke perpustakaan, dan ke toko buku. Apalagi ketika isma mulai nulis novel. Dia banyak sekali konsultasi sama adam. Yah, jalar tresno murgo kulino, gara2 sering ketemu dan sering komunikasi itulah, cinta ngadadak tumbuh tanpa diundang. Kayak jelangkung]

Setting yang ditonjolkan: tempat bersejarah sebagai obyek hunting, masjid2, sungai nil, taman2, pmik, toko2 buku, dll.

Diskusi tentang cerita ayat ayat cinta dan novel yang akan ditulis oleh isma [judulnya: sujud cinta terakhir]

II

[perjuangan adam dan kawan2 untuk memperjuangkan akhlis dkk]

Setting yang ditonjolkan: wisma, ppmi, kbri, komunitas2 masisir [bulletin, kelompok kajian, dll]

Tapi, pas proses memperjuangkan itulah, adam dan isma keliatan akrab pisan.

III

Konflik antara adam dan makvi. Makvi ternyata jatuh hati sama isma.

IV

Penyeleseian konflik

V

Eksibisi

Lima

I

Puncak deket2nya adam dan isma setelah eksibisi. Tapi, mendadak Adam ketemu ama temennya iffa. Dia jelasin kalau iffa nda jadi nikah. Dia nunggu adam. Adam jadi dilematis, di hadapan isma ama iffa. Satu sisi, iffa adalah cinta sejati adam, tapi di sisi yang lain, isma datang menghibur adam ketika dia ada masalah sama iffa.

[di bagian ini konflik ditonjolkan, utamanya keadaan adam yang dilematis, antara berat memilih isma atau iffa]

Adam munajat dalam sujud panjang. Minta ketenangan hati dan pertolongan Allah untuk menjatuhkan pilihan. Akhirnya, adam milih iffa. Dia kerja keras untuk bisa beli tiket pulang, untuk menjemput iffa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: