ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA

ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA

Penulis: Hernowo

judul buku ini munkin tidak asing lagi untuk komunitas yang namanya mahasiswa baik itu di indonesia ataupun yang ada di mesir😀 sure……..

Ya, andaikan buku-buku yang ada di rak-rak perpustakaan adalah “makanan” kesukaan kita. Apa jadinya ya? Tentu kita akan lahap membacanya. Inilah “kunci” untuk membuka gembok yang menyebabkan kita enggan membaca buku.

“Kunci” ini, oleh Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Highly Effective People), disebut paradigma. Apaan tuh paradigma? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi? Anda merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul dikarenakan Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: “Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali membaca buku ilmiah, saya tentu ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”

Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam membaca buku. Memang, tidak semua orang memandang aktivitas membaca buku ilmiah seperti itu. Nah, tulisan ini akan mencoba membantu siapa saja yang merasa masih kesulitan untuk memasuki dunia buku.

Menganggap Buku sebagai “Makanan”

Pertama-tama, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kacamata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkanlah apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan dengan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita ngantuk, maka pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dulu siapa pengarang buku tersebut. Atau Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah kepada mereka untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada di buku itu.

Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca di pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, di sore hari, tambah 10 halaman.

Manfaat Membaca Buku

Mengapa gizi sebuah buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang Anda peroleh dari telinga (mendengar) dan mata (melihat) Anda? Sebab, hanya lewat membaca bukulah kita mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita. Aktivitas membaca buku menggabungkan banyak aktivitas penting lain.

Pertama, Anda perlu memusatkan perhatian agar sebuah teks yang Anda baca dapat memberikan manfaat kepada Anda.

Kedua, apabila Anda menemukan hal-hal menarik dari sebuah buku, Anda dapat memberikan tanda (seperti menstabilo atau memberikan catatan di pinggir-pinggir marjin buku).

Ketiga, sebuah kalimat yang menarik akan membuat saraf-saraf di otak Anda bekerja secara efektif. Tiba-tiba saraf-saraf itu berhubungan dan membuat Anda dapat menemukan sesuatu yang baru.

Dan, ini yang ajaib, membaca buku akan membuat Anda tetap berpikir! Seorang peneliti dari Henry Ford Health System, bernama Dr. C. Edward Coffey, membuktikan bahwa hanya dengan membaca buku seseorang akan terhindar dari penyakit demensia.

Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak. Apabila seseorang terserang demensia, dapat dipastikan bahwa dia akan mengalami kepikunan atau (dalam bahasa remaja disebut) “tulalit”.

Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termudah adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga 90 tahun yang tak terkena demensia.

Membaca dengan Gaya SAVI

Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku Anda—bahwa membaca buku seperti memakan pizza—dan sudah memahami manfaat membaca buku, cobalah mulai membaca buku-buku ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku, di bawah ini saya sajikan tip-tip Dave Meier yang saya cuplik dari buku-menariknya, The Accelerated Learning Handbook.

Meier menamai tip-tipnya ini “metode belajar gaya SAVI”. SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori (bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silakan menggunakan Gaya SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk berikut.

Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat Anda membaca, cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah membaca 5 atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan, kaki, dan kepala Anda. Setelah itu, baca kembali buku Anda.

Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca dengan menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih lagi apabila Anda menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah, telinga Anda akan membantu mencernanya.

Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan kemampuan dahsyat Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Cobalah bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.

Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan dengan kemampuan luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca. Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda. Akan lebih bagus apabila—saat Anda merenung itu—Anda juga mencatat hal-hal penting yang Anda peroleh dari halaman-halaman sebuah buku. Insya Allah, Anda akan dimudahkan dalam menuangkan atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.

Selamat membaca buku!***

 

6 Responses to “ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA”

  1. andaikan buku itu sepotong pizza.? pasti uenakkk…nyam…nyam…

  2. Halo, Indonesia…!
    Numpang promosi,
    Mau memberikan beasiswa untuk anak bangsa!
    Dan belajar wirausaha!
    Terimakasih, admin.

  3. ya jangan dimakan bukunya aja gpp , kalau di samping bukunya ada pizza seperti sekarang aku ini gpp😀 di makan , yang udah promosi terima kasih🙂 dan jangan bosan kunjung ksni

  4. salam kenal…
    bro ada jual komik kenji ga..
    gua mau pesan..

  5. SYUKRON ATAS ARTIKELNYA, Ana bisa berbagi dengan komunitas membaca ana…

  6. Makasih ya bwt artikelna, jadi ku bisa ngerjain tugas. makasih banget, sangat bermanfaat…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: