Kumpulan Puisi Terindah

” Kumpulan Puisi Terindah

Sempat Jadi Kata yang Indah yang Pernah Aku rasakan 

Kuukir Senja

 

Sajak Novy Noorhayati Syahfida : R. Hadi Wijayakuukir senja di hatimu
kuberi pelangi pada kerling senyummu
sambil kulukis pantai, ombak dan perahu
di matamu
kubungkus secarik sutra ungu
dan kusimpan diam-diam dalam mimpiku
Jakarta, 22 Agustus 2002

Pernah jadi Bingkai Yang Indah Dalam Ruang kertas yang Putih Untuk kurasakan , Walau Saat Itu tak Seindah yang Aku rasakan …..:) Nih Kumpulan Puisi yang Laenya, Andai minat Ambil Aja Gpp Kok :D

Seberapa Lama Lagi

 

 

SajakArwan seberapa lama lagi kau perlu waktu
untuk mengukir namaku dalam hatimu
seberapa banyak pahatan kau perlu
untuk membuat bingkai lukisan wajahku

bila saatnya sampai kuingin pahatanmu tak tinggalkan luka

Sept. 04

 

 

 

Kuhampiri Engkau

 

 

SajakArwan kuhampiri engkau
yang terduduk di taman hatiku dengan tangan menyangga dagu
dengan kulitku yang dilumuri embun kubiarkan tubuhku tanpa selembar benang
sekilas terlihat kau mengintip dari sudut matamu, hanya sekilas
engkau kembali menusuk rumput hijau dengan sinar matamu, redup
kulihat rumput-rumput menengadah menatap ngangah
mungkin mengagumi sayu wajahmu yang ayu
Wajah sayu ayu lekat ke wajahku
mata indah tiada berkedip, menyelidik
aku biarkan mata hatimu masuk lewat lorong hitam mataku
agar engkau tahu, hatiku telanjang untukmu dan
kubiarkan, kuresapi kecup bibir matamu dikening hatiku
senyummu mulai beranjak bangkit
kurasakan tangan berkulit bangsawan memagut
bibir pori-pori bungkam terpana
kulit seindah putri raja menyentuhnya dengan rasa percaya

daun-daun mengangguk
tanah tersenyum bijak
daun-daun yang rela menyerahkan embun paginya
untuk jiwaku yang tengkurap saat pagi
tanah yang ikhlas memberikan sapa sejuk embun yang meresapi
untuk jiwaku yang meminta pada fajar

Sept. 10

 

 

 

Diriku Pucat Layu

 

 

SajakArwan angin berhembus tanpa menyentuhku
hingga kabar dari kutub tak kudengar
ombak laut enggan membelai kaki telanjangku
walau kumerangsek maju, dia mundur

kuciptakan cermin dari langit biru
kulihat diriku bercat putih pucat layu

Setp. 04

 

 

 

Rindu Berkalang Pilu

 

 

SajakNurani Pratiwi
Kala kelam menjaring hari
‘ku duduk disini
serupa bintang di langit sendiri
Dupa sepi
menyeruak kamar
penuhi alam sekitar

Selalukah rindu berkalang pilu
Atau cuma khayalan semu
…….bayang pengantar tidur ?

Surabaya,27 Sept 2002

 

 

 

 

Taubat

 

 

SajakM. Imam Ghozali Duh Gusti Pangeran Penguasaku
Maafkan hamba yang berhati hitam
Yang kadang terlupa dan sering sengaja
Mengaburkan nurani tuk menikmati dunia
Duh Pencipta segala rupa dan semesta
Jangan buat ini takdir abadi
Yang membuatku tak lagi mengenali-Mu
Hingga aku tak bisa memilih surga dan neraka

Duh Sesembahan abdi Maha Dewa
Terangkan mata ini dari kegelapan
Pisahkan jiwa dari keangkaraan murka
Bangkitkkan lagi birahi suci untuk memuja

Duh Sang Pengasih tiada kenal pilih kasih
Anugerahkan sedikit ketakutan
Karena aku terlalu berani untuk lupa
Bahwa alam-Mu bukan hanya dunia

Duh Raja Diraja Maha Perkasa
Hilangkan segala ragu dalam akal matiku
Penuh kebimbangan dan berselimut tanya
Adakah kebenaran dirimu berada

Duh lelabuhan akhir segenap asa
Mundurkan sejenak saat maut untukku
Sempatkan aku tahu apa yang Jibril bawa
Mungkin hati kecilku akan mampu terjaga

 

 

 
 

Terkutuklah Aku

 

 

SajakM. Imam Ghozali Terkutuklah aku mencintaimu
Karna aku bukanlah yang terpilih
Sedang aku menghinakan diri padamu
Malaikat pun tak mampu menulis Dalam garis takdir yang ada
Karna ia akan dicambuk bila mendustai tuannya

Engkau seperti bintang di langit
Aku selalu melemparimu untuk jatuh
Tapi batu itu kembali memukulku

Aku menangis kau hanya membisu
Kau tertawa aku terpaksa mendengar
Benar-benar terkutuk aku!

kalau tak mau bercinta denganku
Tak perlu kau meludah sampai aku tenggelam
Bunuh saja aku!

Bagiku cinta adalah engkau
Dan bagimu cinta adalah kepuasan
Sedang aku selalu lemah di depanmu

Andai saja ada dunia
Dimanapun…
Dan dirimu tiada…

 

 

 

Musisi Hujan

 

 

SajakCecil Mariani tiada rintik hujan terdengar berlalu seperti mimpi
patahan demi patahan sedu yang jadi partikelnya
di tiap butiran hujan melerai angan
sebegitukah serentetan sunyi yang telah tertata?
bermakna dalam nomenklaturnya yang rahasia
Waktu bertabrakan
ya, dan detik berhamburan
jadi ombak yang pecah waktu kita melayari kata kata
berlagak musisi layari instrumen kecintaan hati
tak lagi dengan jemari
bermetronom jantung sendiri

moderato cantabile
cressendo
cressendo..

dan rinai hujan pun bernyanyi
di langit cerah tanpa hujan sama sekali

 

 

 

Tangis sang pembebas

 

 

SajakDewa Agung
Langit bicara tak terdengar
Hati tak terjamah sayap malaikat
Mata enggan bersinar
Menelungkup dirawa rawa kegelapan
Aku telah lama berkabung
Atas kematianku sendiri

 

 

 

Aku Rindu

 

 

SajakSN. Mayasari H aku rindu
jalanan riuh surabaya yang meras peluh ayahku
megah supermarket membocorkan tabungan ibuku
dan teman kecilku yang ditenggelamkan waktu
Yogyakarta, 29 juli 2002

 

 

 

sajak-sajak lilis marliani

Untuk Siapakah Perempuan Hidup?

 

 

 

 
Seorang ibu menulis puisi di lenganku
Dari ujung telunjuk ditulisnya nama panjang dewi sri
Pada telapak tangan digambarnya perempuan
sedang membasuh kaki lelaki
Pada siku dibuatnya lingkaran lembut bulu angsa:
anak kucing lelap di perut bunda

“Bu, untuk siapakah perempuan hidup?”
Ibu diam sambil terus melukis kamasutra di ketiakku

Lantas aku minta digambarkan belati pada pundak
Ibu marah; aku tak peduli

Ketika ibu pergi dan tak kembali
ku gambar sendiri belati
di pundak kiri

Namanya Aida saja
 

Dia temanku
manis, semampai
juara kelas sejak te-ka
pernah jadi
buruh
pintal di pabrik tekstil
dekat sungai Cisadane

Dia kepingin kawin dengan angin utara
tetapi selalu angin selatan
yang mampir di beranda
dia kepingin kawin dengan rama-rama
tetapi selalu
cicak yang menyapa

Di jendela kontrakannya
senja telah melipat diri
angin pamit pulang kampung
tetapi Aida gadis tigapuluhtahunan
masih memilin-milin poninya sendiri
sampai pagi

Selalu begitu setiap hari

Dua belas tahun lewat
kebetulan kujumpa dia di stasiun kereta Gondangdia
dengan dua balita di gendongan kiri dan kanan
kembar rupanya
dan sebuah kantong plastik besar di kakinya

Entah mengapa
Aida (yang dulu) manis sekarang menangis
tangisnya lebih keras dari lengking kereta ekspres Pakuan

Mengalirlah seribu kisah tentang lelaki yang dikawininya
ternyata berhati lalat hijau bertaring hyena
bertahun-tahun setia, berdiri patuh di belakang kemejanya
mengharapkan sekedar lubang perlindungan dari sepi

“Masih adakah pabrik tekstil dekat sungai?”
Aida kepingin kembali berdiri di dekat jendela kontrakannya
bukan untuk memilin poni
melainkan memilin benang nasibnya sendiri

Nasibnya sendiri

Rumah Kelopak Mawar
 

 

Untuk Nandyasa

Tak pernah sekalipun dalam hidupku terfikir untuk berhenti memberimu
kelopak-kelopak mawar yang kutanam di beranda ketika kau baru berusia
dua hari. Dengan kelopak-kelopak itu kuajarkan kau satu-dua-tiga dan
merah-putih-hitamnya hidup. Ada keputusasaan ketika kau sulit mengeja
ma-war me-rah ke-lo-pak pu-tih sambil sebutir dua butir air mata

kita
berdua jatuh di atasnya

Pagi ini kelopak-kelopak mawar yang bertahun-tahun kita kumpulkan
dengan segenap senyum dan isak tertahan, telah menjelma rumah bagi
kupu-kupu

Puisi untuk Istri dari Lelaki yang Kupacari
 

Jangan tanya adakah aku mencintainya
Lelaki hyena ada di mana-mana
Jangan kira aku percaya padanya
Meskipun katanya aku Cleopatra
Padahal aku cuma stasiun kereta

Entah apa yang sedang kulakukan
Ketika kulayarkan dendamku dulu
Ia mampir menawarkan pelukan
Lantas kubayar dengan bulan setengah bulat
Melautlah segala kebencian
Yang ditanam lelaki sebelumnya

Barangkali aku memang mencintainya
Seperti cinta kanak pada peri ungu
Barangkali juga aku cuma hyena betina

Lelakimu terus menghujaniku dengan bunga dan mimpi
Sementara kudengar isak burung bangau di padang pasir

“Laut begitu jauh, begitu jauh debur ombak”
bayangmu gemetaran di tengah terik padang
tak ada tangis
ada oase di bening matamu

aku merasa bersalah

Pada bulan ke tujuh belas dendamku lunas
Cintaku ludas terus menerus dimakan bayang putihmu
Kudatangi dirimu
Kau sambut aku dengan pisau dapur di tangan

“Lihat, aku tidak memakai rok mini
aku tidak merokok
aku tidak suka film porno
aku benci diskotik
aku tidak pernah mencopet dompet suamimu
aku selalu menyuruhnya pulang ke rumahmu”

“Aku tak punya apa-apa selain suamiku”
Suaramu kah itu yang gemetar tertelan putus asa?

Ada laut memisahkan kita
Di mana perahu nabi Nuh?
Ingin aku berlayar ke pulaumu
Memeluk kakimu seperti pernah sekali
Kucium kaki bunda

Kau diam membisu di situ
Dalam api yang kukenal betul baranya
Sesungguhnya
Aku adalah dirimu
Entah di mana pernah kubaca
Perempuan di mana-mana
Kembar dalam perasaan

Kemarikan pisaumu
Biar aku mati di ujungnya
Jika ini satu-satunya cara
Menghentikan pendulum bingung
diaun-ayun waktu

Sajak tentang Diam
 

 

Sebuah diam pernah dicintai kebisingan dengan dasyatnya
hingga hampir saja ia beranjak dari pertapaanya
Seseorang yang bijak mengingatkannya bahwa diam adalah emas
bicara adalah kuburan yang dihuni sejarah kebencian

Diam-diam sang diam tak bia mengelak dicintai
kebisingan sebab sesekali kulihat dalam semedinya
ia nikmati sorak-sorai, makian, dan tangis
dengan diam-diam sekali ia bermimpi berhenti bertapa
kabur ke pulau entah yang mengizinkan
sunyi dan sorak hidup berdampingan dalam damai

Tetapi sekali lagi ia diingatkan
diam adalah adiluhung sementara kebisingan
cuma sampah di telinga

Hingga waktu sekarat di telapak tangannya
tak seorang pun tahu siapa pemenangnya

ketika si idiot jatuh cinta
 

Dulu pernah aku berdiam dalam kata-kata, mencoba bernegosiasi dengan
hatinurani yang tak henti-hentinya memprotes agar aku berhenti saja
mencintaimu. Sebab cinta yang tak berbalas itu taik kucing.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu

Dengan lapang dada aku menyaksikan kau kawin dengan bulan kau kawin
dengan angin kau kawin dengan kupu-kupu kau kawin dengan kembang
bakung……..bahkan kau juga kawin dengan matahari . Lantas kau terbakar
hangus jadi debu.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu

Seperti seekor burung yang tercecer dari kelompoknya aku menepi di
pucuk angin dan bernyanyi sendiri sembari menggenggammu dalam mimpi.
Susah payah logika meyakinkanku bahwa ombak takkan pernah kepingin
menetap di daratan. Meski memang sekali-kali ia mengunjungi kita, tapi
cuma mau mengembalikan botol aqua dan plastik chiki yang tercecer
ketika kau mengunjunginya di samudra.
tetap saja aku
mencintaimu

Lama aku berdiam dalam senyap,menjauh dari kata-kata, bermusuhan

dengan
logika. Terlalu lama mereka menyiksaku; memakiku; idiot! Padahal
kesalahanku cuma satu: jatuh cinta padamu!

Hai! Aku si idiot, jatuh cinta padamu. Dan aku bahagia.
Peduli apa!

Cimanggis 13 Februari 2000

Narsisis
 

setiap pagi kita saling menyapa
“selamat pagi, sayang” katamu
“mimpi indah semalam?” tanyaku
sembari mengelus hidungmu
kau balas mengelus hidungku
di cermin, kita saling memuji:
“meski kau belum mandi pun
aku betah memandangmu”
dan kau tersenyum untukku

“kamu tahu, kau satu-satunya
yang tak pernah menyakiti hatiku”
kataku, kau tersenyum lagi
“kau selau baik padaku
kau selalu mengagumiku” katamu,
“seperti juga aku mengagumimu”

orang-orang semakin jauh
meninggalkan kita dan
kita semakin erat tumbuh bersama
“kau satu-satunya yang selalu
ada ketika kuingin kau ada”

sering kita rayakan pesta gila-gilaan
di depan cermin
aku dalam gaun pesta ungu, kau juga
aku dalam lipstik ungu,kau juga
aku dalam goyang samba,kau juga
lantas kita tertawa-tawa
enak juga, hidup cuma untuk berdua
selalu sepakat untuk segala hal

sajak perempuan di bawah hujan
 

Perempuan berblouse kembang berdiri
di bawah hujan. Mau kemanakah dia?
Sedari tadi berdiri saja dalam resah
payungnya bergoyang-goyang digoda angin kencang
berkali-kali dihampiri bis dan mikrolet segala rupa
satu dua sedan mewah menghampirinya sekaligus
mencipratinya dengan lumpur hingga ke rok ungunya.
Tetapi tetap saja ia berdiri di situ

Adakah ia menanti seseorang yang dicintainya
sebab begitu setia ia berdiri di bawah
cuaca yang tak kenal kata kasihan

Orang-orang datang dan pergi berganti-ganti
yang tak berubah hanyalah
hujan yang turun seharian
dan perempuan berblouse kembang
setia berdiri di pinggir jalan
padahal payungnya merengek-rengek
kepengin pergi bersama angin dan hujan
yang terus-menerus menggodanya

Perempuan berblouse kembang,
sampai kapan kau menunggu?

C.22.2.00

Bagaimana rasanya jadi perempuan?
 

Jadi perempuan berarti jadi obyek iklan
arisan, dan kosmetik segala rupa yang dijajakan
di billboard pinggir jalan hingga di jendela-jendela internet
hingga membuatnya terus menerus menebak:
sudah sempurnakah aku?

Jadi perempuan mesti hati-hati mengurus diri
membungkus, memupur, mengoles, menyusun bermacam-
macam mimpi kalau tak ingin sendiri dimakan sepi

Jadi perempuan mesti selalu memikul ketakutan
pada tangan jahil bos di kantor, pada lelaki yang memepetmu
di bis yang sesak, pada om berhidung belang berperut buncit
yang tiba-tiba saja merasa jadi bapak dadakanmu di mal-mal
Malam hari, takut pada sopir taksi, juga pada satpam rumah sendiri
meski sudah punya herder dan alarm model tercanggih,
tetaplah kunci ganda pintu kamarmu
sebab setan yang bernama lelaki selalu bisa mendeteksi hangat tubuhmu
selalu bisa menembus dinding perlindunganmu seperti sinar laser
yang memotong-motong privasimu

Jadi perempuan di negeri ini, sungguh susah untuk merasa senang lagi

C.20.2.00

Siapa musuh kita?
 

 

Malam itu ia datang lagi.menggendong putusasanya ,mengepit
kekecewaannya yang panjang di ketiaknya yang gempal. Perempuan ini

dan
seribu perempuan lainnya baru saja pulang dari gedung majelis, minta
diberi satu atau dua kursi agar bisa menyuarakan keluhan sekaligus
harapan

Malam menggelindingkan kami pada lapar; sedari siang tak sempat
sentuh nasi box yang dibagikan seksi konsumsi. Sementara anak di rumah
berkali-kali menelpon; “Ibu lupa lagi menyiapkan makan siang dan makan
malam kita”. Lantas dijawabnya, “Kan ada supermie”. Klik, dimatikannya
handphonenya sembari menghempaskan segumpalan kertas kerja di atas
mejaku. Ia menatapku. Diamjenak. ia menghela napas, kecewa. “aku mau
nyerah”, katanya sangat lirih. aku diam. “aku sedang berjuang untuk
anak perempuanku agar kelak ia tidak diinjak-injak lelaki. Tapi
sekarang ia kelaparan di rumah “. aku diam.

“aku juga merasa jangan-jangan musuh kita bukan lelaki, sebab dari
lelaki aku dapat cinta bulat di dada, dari lelaki aku ada” aku
bertahan untuk diam. “aku tidak tahu kepada siapa kita berperang

kepada
siapa kita mesti marah,kepada siapa aku mesti memprote sebab aku
cinta lelaki.ia bapak anak-anakku. ia suami ibu yang kucintai”

sungguh,
tenggorokanku begitu gatal untuk segera menjawab. tetapi sekali lagi
aku berdiam dalam bijak

jauh dalam sayup senyap malam, aku dengar rintih istri diinjak
suaminya di depan anak perempuannya sendiri.”Ini bukan soal lelaki

atau
perempuan. ini semata soal seseorang menginjak-injak orang lain. Meski
ia bukan kita, kita bukan dirinya, tegakah kau bilang: bukan urusan
kita?”seseorang pernah mengatakan ini padaku

malam semakin dan semakin larut, sementara kami semakin larut dalam
rencana demonstrasi esok hari .aku dengar suara musik bercampur

dengkur
lelaki “aku kangen suamiku”. Entah siapa diantara kami yang
mengatakannya lebih dulu.
C.20.2.00

Seseorang Sedang Merindukanku
 

Aku ingin pulang
pada nafas guguran kembang ketumbar
tlah berapa musim kerut di ujung-ujung
senyummu, keriput tangan,
hangat pada pipi, tersimpan rapi
dalam kenangan

Membacamu dalam mimpi
adalah kepingan masa kecil
meloncat dari saku

Selalu meneduhkan;
seseorang tak putus-putusnya mencintaiku
begitu saja tanpa kuminta

C.23.00

Pencarian 1
 

Perjalanan ini berawal dari nada musik subuh menembus jendela dan
berakhir pada tanah tak bertepi.
Pencarian yang tak pernah berhenti meski pada sebuah akhir: kering
telapak tangan dan hati yang terus-menerus kepingin pergi; mencari.

Di bukit kesejukan dan janji menanti pendeta-pendeta berjubah ungu
menggengam kembang teratai.
Doa-doa ditaburkannya di ubun-ubunku. Sungguh, aku tak merasakan
apa-apa meski seruling menarik-narikku pulang kembali ke hati mereka.

Pada waktu yang tak kuingat, aku tiba di padang darah dan dendam.
Seperti juga nenek moyangku ratusan tahun lalu, anak-anak kecil
berbaju putih menanam dendam pada tanah-tanah sengketa. Perseteruan
ditulis dengan darah. Tak seorang pun berani menggugat; semestinyalah
bisa ada damai di sini, meski barang sejenak ketika aku lewat.

Pada bulan purnama entah yang ke berapa, seingatku aku bermukim di
kerajaan awan. Ibu-ibu menanam gandum di langit mendung dan
menyiraminya dengan air mata dua kali setahun. Pemuda-pemuda lajang
menanam layang-layang di langit dan melilitkan benangnya di leher
masing-masing.

C.5.2.00

Jakarta 1
 

tukang becak memeluk mimpinya sendiri
punggungnya basah,
adakah gigil di hati?

hujan bulan januari seperti
hujan bulan-bulan sebelumnya
terasa manis di lidah
adakah engkau juga rasakan?

C.19.1. 00

Jakarta 2
 

kita tak lagi menanam benih di ladang
tapi di pasar bursa dan kaki lima

anak-anak tetap melukis langit
dengan potlot warna-warni
pada layar monitor dan tembok tetangga

Jakarta 2
 

Seharian aku menanam impian
pada tembok-tembok Jakarta
menanam dendam pada jalanan
sorenya kukubur sepi
pada kerdip café
atau sendirian di wese
menghitung nafas yang tersisa

Selalu aku ingin kembali
pada segala yang tak lagi dimiliki
semacam kerakusan kah?
atau kesadaran telat?
bahwa sesungguhnya aku cuma
sebagian kecil dari deras arus waktu
c.27.1.00

gerimis di jalan
 

‘Pernah kau rindu aku?’
Tiba-tiba pertanyaanku
ditertawakan langit
Sesungguhnya, lumrah sekali
beberapa ibu melahirkan bayinya
jauh di luar ingatannya

Membujuk diri sendiri, sungguh tidak mudah;
kau sedang memasak pepes ikan teri
dengan bumbu cinta menanti di beranda
kapan aku pulang ke pelukan teduhmu

Ibu bisa punya seribu wajah sejuta hati
ibu bisa jadi bulan dalam mimpi
lebih sering lagi ia jadi beludak
dalam kehidupan sehari-hari
kadang-kadang ia mawar
sekaligus duri batangnya

Ibu pasti marah kalau kuminta
sekali-kali jadi bunda theresa

Sesungguhnya sederhana saja,
kalau ia mencintaiku, aku tak kan ada
di perempatan jalan ini bersama
harapan-harapan berjatuhan
seperti gerimis

Sering aku bermimpi;
Ibuku adalah megawati yang menjual kharisma
Ibuku adalah karlina yang menaburkan air mata
Ibuku adalah khofifah yang membagikan kata-kata
Sekali-kali ibuku ada di antara perempuan-perempuan
berselendang sutera menawarkan nasi bungkus
Tapi tak satupun yang berani
menawarkan pelukan

Tak satu pun

C.23.1.00

ibu 1
 

 

melukismu,
aku tak punya warna apapun
selain marah menahun
tersisa dari terlalu sedikit masa
yang pernah kita miliki berdua
c.23.1.00

Sungai Belah Rumah
 

Ada sungai membelah rumah
Bermula dari retakan ubin dari teras hingga kamar tidur
Berbarengan dengan waktu dan cinta semakin menipis
menjelma sungai mengaliri duka ke muara entah di mana
Ketika saling membenci untuk alasan yang tak jelas,
kita lemparkan kursi ke sungai
Ketika sedang birahi, kita berenang-renang di arus hangatnya
Ketika kehabisan uang, kita tangkap seekor sepat gemuk
Anak-anak melayarkan perahu kertas

Sungai semakin hari bertambah menganga
Tetapi kau selalu bilang tak apa,
toh kita menikmatinya juga
Hingga subuh-subuh kudengar
anak kita tenggelam di sana
c.24.1.00

Nekat
( mengenang Tm)

Bermain layangan
langit mendung sekali
ada petir sesekali
geluduk lebih sering lagi
Tapi aku riang menarik ulur tali kama
kau di sana menari-nari
menggoda mendung
lebih ngamuk lagi
c.24.1.00

Rumah Siapa 1
 

Sebuah rumah didirikan di atas tumpukan jerami kering
Dari batang jati dibentuknya tonggak
Dari ranting-ranting akasia dibuatnya dinding
Dari daun teratai segar jadilah kepingan jendela dan pintu
Lantas kita menanam rumput di lantainya
Daun-daun pandan jadi tirai, wangi sekali
Ketika angin menyelusup di sela-sela

Setelah bersusah payah mendirikan rumah,
mengapa kau masih juga kos di pohon belimbing
dan aku mengontrak pavilyun di kaki beringin?

The end is silence
 

where do the little beggars come from, mama?
why do they operate at the crossroads?
don’t they have to learn math and English
or have a wonderful time with friends?

the beggars come from the sky, honey
dropped by the typhoon
along main thoroughfares,
in front of shop windows
or near garbage dumps

from the sky? that must be
very close to heaven
but who are their parents, mama
why do the old people let their children
go down to earth to sniff pollution
and taste hunger

have the done anything wrong
that made the parents
furious and punish them
so hard, right-a-way?

no, dear
of course they love their children dearly
and yearn for healthy food,
clean clothes, cozy homes, and colorful toys
for their treasured children

although they live close to God up there
it’s still far away from heaven, honey
they have no power to go anywhere
only from the vortex of the storm
all they can do is just follow where
the hurricane takes them along

is anything we can do for them, mama?

(silence)

Song of the wind
 

my mother is the sky
my father is the sun
and I am the wind
I assure you I never cry
(Really? So what about the drizzle?
Isn’t it your tears sprinkling down?

keroncong kaleng rombeng
matahari mendelik padaku
lewat bayang jendela toko

burung-burung gereja
bersuara malaikat
sabar menunggu
di sela-sela lentik bulu mata
berdebu
(Kapan aku berhenti
menendangi kaleng kosong itu?)

pada waktu pada senja
aku mesti mencuci kembali
bola mata yang semakin ungu
menyusun kembali kata-kata
berbaris rapi dan manis
bersama bulu-bulu alis
seperti hari-hari yang kususun
runut pada garis nasib
perempuan lainnya

kaleng coca-cola tak bisa ikhlas
kaleng coca-cola takut kehilangan
bunyinya, dan terus memprotes
“jangan pergi!”
“aku mesti pulang,’ bujukku
tetap saja ia menjerit
meraung-raung di pojokan jalan

ketika aku berbelok selamat tinggal
anak-anak burung gereja sibuk
membujuk kaleng yang semakin rombeng
dengan lagu keroncong anak jalanan

III
 

pada waktu
pada matahari
pada senja
aku mesti pulang
cobalah engkau mengerti

Ciputat 20 April 00

 

 

 

 

Sajak untuk Medy Loekito

Awal adalah segala tanya

 

 


dan sangsi berantai

tertanam di setiap lekuk senja

tentang siapa dirimu datang menghandai

Dalam seiring sejalan

 

 


kudapat sepotong jawaban pada seekor semut yang rela direnggut maut

Dan pelan-pelan kuberbisik pada kalbu

 

 


tentang kesabaran

akan berbuah sebongkah harapan

dan kuulangi lagi dalam kisi hati

terawangi langit biru

lepaskan haru biru diri

Pariaman November 1977

 

 

 

Ibu

 

Lembaga hati belahan batu

 

 


dalam tanah-tanah rindu

tumbuh senyummu

dan sesudut mata bernas memandang

ke dalam mimpi di antara tualang

- Akulah Malinkundang zaman

yang terbelah dari rahimmu! -

Lembaga rindu belahan sepi

dalam batu-batu nurani

dan selepas kata sepanas jiwa

ke dalam hati kubaca cinta

- Sudah leleh semua

tak ada tersisa! -

Pariaman 1977/Jakarta 1998

 

 

 

Surat Pendek dari Gudang Peluru Dayeuh Kolot

 

Masih kurasakan dengus malam

 

 


dalam cahya matamu, Neng Berdendang dengan angin dan selendang mayang tentang negri yang terbakar dendam

“Harus diselamatkan, Neng, Harus diselamatkan!”

 

 

 

Suara sendiri menggaung dalam subuh

 

 


tentu engkau rasakan langit hitam negri ini akan luruh. sebentar nanti langit perak gemerlapan

akan tumbuh, Neng, akan tumbuh

 

 

 

Perlahan sekali, subuh kutembus

 

 


antara percakapan rumput-rumput dan angin antara bayang-bayang dan selendang mayang di leherku dan wajah

bunda pertiwi dalam dada Langkahku semakin tertuju ke Gudang Peluru

Tentu engkau mengerti,

 

 


langkah demi langkah berbagi antara kau dan bunda pertiwi

Perlahan sekali, kawat berduri kutembus

 

 


antara kantuk serdadu-serdadu penjaga dan nafsu ingin segra kembali padamu

Dadaku semakin busung ketika menangkap senyummu mampir menggoda dan bunda pertiwi bertanya-tanya dalam

 

 


ruang dada tentang arti gelora dalam perjalanan sejarah mendatang

Perlahan sekali, merayap sunyi sambil kugenggam granat dan menikmati harum rambutmu masih terasa dalam

 

 


selendang mayang berjalan menyusur pagi yang hampir tiba : Adakah engkau di sana mendengarkan kisahku,

Neng?

Detik demi detik: Waktu berjalan

 

 

 

Dalam sudut kepastian dengan granat di tangan panas kugenggam dan picu telah dilepas. Ketika ini semilir

 

 


bayangmu makin menggoda Ingin saja kukembali dari Gudang Peluru dan datang padamu untuk mengajuk

waktu-waktu tersisa

“Tidak, Neng

 

 


Kita tebus kemerdekaan dengan menggadaikan cinta kita pada ladang-ladang mesiu musuh!”

Dan kita tanam kemerdekaan dalam dada atas setiap jengkal negri ini dan kita siram dengan darah dan keringat,

 

 


agar tumbuh, Neng, agar selamat”.

Lambaian tanganmu, ketika melepasku pergi

 

 


perlahan terasa Mungkin juga seribu pemuda merasa ketika berpisah: Mengosongkan Bandung!

Dan granat ini semakin mesra bercanda, Neng

 

 


sambil sayup-sayup membakar tanah selatan

“Selamat tinggal, Neng, semua ini untukmu!

 

 


Aku rela”

Tanganku perlahan

 

 


tapi penuh kepastian dan tenaga. Granat itu kulepas Granat itu melayang di udara Berhasil kulempar! Granat itu

lepas! Granat itu melayang dengan anggunnya. Menembus subuh menerkam sasaran! Mataku tak pernah lupa

Granat itu meledak!

Bunga api di pinggir subuh di sisi pagi

 

 


di tepi Bandung Selatan Mataku tak pernah lupa Granat itu meledak! Gudang Peluru itu musnah! Gudang Peluru itu

musnah! Bergelegar suaranya di Bandung Selatan

Aku puas, Neng, aku puas sekali.

 

 

 

Tidakkah engkau lihat semua itu dalam senyumku?

 

 

 

Sekarang aku ingin segra kembali padamu, Neng

 

 


Ingin kutuliskan kisahku, ingin kuceritakan pengalamanku dengan selendang mayangmu dalam wangi rambutmu

dengan seluruh getar jiwaku menatap untukmu, Neng

Dan langkahku semakin ringan, Neng, semakin ringan berjalan menujumu. Dan, O, siapa yang terbaring itu?

 

 


Wajahnya hancur, tubuhnya luluh tak dapat dikenal Darah berhamburan di sana-sini Tapi aku kenal selendang itu,

bukankah selendangmu, Neng?! Bukankah selendangmu yang kupakai, yang melingkar di leher tubuh itu?

Langkahku semakin ringan dan semakin kasat

 

 


Sekali terbang dan sekali terbenam

Dari balik mentari

 

 


Kusimpan salam untukmu, Neng!

Bandung 1983

 

 

 


Alun-Alun

 

 

 

Suara kita tak pernah lagi ramah

 

 


dibanding tahun-tahun sudah

Antara kita ada segaris batas

menerkam baris-baris getas

Tangan kita tak pernah lagi dapat berjabat

sambil menaburkan hasrat

Kita tak pernah lagi dapat saling peluk

dan kau kucium pelupuk matamu

Kita selalu sibuk dan selalu sibuk

sambil kita selalu kembangkan kidung rindu

Perlahan kita semakin menua

mendekati puing-puing

kembali ke asal perjanjian kita

dengan segala macam hati yang geming

Kita terasa begitu jauh

kendati kita satu flat dan dipisahkan selembar dinding beton saja!

Bandung, Januari 1987

 

 


:

Di Balik Jendela

Orang berdua di balik subuh

 

 


mandi siraman cahya mentari pagi Ketika jalanan masih lengang dan gigitan dingin mendera sumsum Orang berdua

menjala waktu

Sehabis rona merah sepinggir langit perak

 

 


kita habiskan sisa mabuk menembus kelam Lepaskan keasingan diri dalam cengkraman sumbu bumi. Hampa Sehabis

katak-kata lepas tanpa suara

Orang berdua duduk menunggu

 

 


di balik jendela Kita menatap waktu

Bandung 1987

 

 

 


Gelisah

 

 

 

Bahasa angin. Bergerak dalam rasa

 

 


simpan gemerisik daun Bahasa sungai. Bergerak melanda batu-batu kali Bahasa angan. Bergerak jebak rasa siapa

pun Bahasa sangsai. Bergerak melanda datu-datu hati

Angin

 

 


mana angan yang kau terbangkan Sungai mana sangsai yang kau alirkan

Bahasa diam. Memacu

 

 


gerak ragu Bahasa cinta hanya milikmu!

Bandung 1987

 

 

 


Rumah Tua

 

 

 

Kerinduan akan suara nenek menceracau. Kembali

 

 


menyulam di kursi goyang. Sekali-kali lepaskan tatap lewat kacamata yang melorot. Kali ini semua jadi bangsi

memanggil-manggil. Aku lindap

Jauh. Keterasingan dinding tembok bisu. Sepi

 

 


begini mencari kembali rumah tua. Tak juga dapat

Kembali ke kota kelahiran. Menjenguk isi hati

 

 


berkaca dalam bolamata nenek. Dan berangin-angin sambil melagukan kisahku. Semua jadi lekat. Semua

Masuk ke dalam. Melangkah ke tempatan rindu

 

 


Semua belum berubah. Kecuali nenek tidur dengan tenang di samping halaman. Bernisankan batu sunyi. Batu kali

Semua tak lagi bicara apa-apa. Sepi seribu kali lebih terasa malam ini

Bandung 1987

 

 

 


Matahari

 

 

 

Siang. Aku jadi buta dalam pelukkan rajahari

 

 


setelah seribu malam berjaga-jaga Lembar waktu. Aku berjalan meraba-raba di antara sekat kota. Keringat hari ini

membuat aku hitam. Tambah hitam di siang hari

Matahari dengan gigi waktu

 

 


mendera orang bisu. Orang diam. Siapa pun tak pernah tahu gagu jadi permainan

Matahari dengan gigi waktu mendera orang bisu

 

 

 

Aku tak bisa tinggal diam setelah berjaga-jaga

 

 


dalam seribu malam. Hari ini bukan permainan

Matahari. Kubur waktu

 

 


jadi matahari. Keringat tak bisa diamkan nurani bila kelam menyibak malam. Nanti sepi. Lari ke balik waktu sia-sia

Siang. Aku jadi buta dalam pelukan harapan

 

 

 

Bandung 1988

 

 

 


Di Depan Bulan
Di Tepi Saguling

 

 

 

Angin bergerak ke daun-daun

 

 


mengarak musim bertahun-tahun Di sini air menangkap pantul kilat malam hari sambut sepi yang jatuh ke dalam

danau Ke mari Rasakan kata-kata yang meluncur sendiri menyibak riak hidup. Semua. Galau! Embun turun basahi

udara Waktu. Titian tak pernah henti bagi orang dalam perahu. Dalam topi lebarnya menunggu. Siapa tahu dapat

ikan besar? Nasib. Semua orang boleh saja gusar kalau permainan kayuh semakin tidak menentu lagi Diam biarkan

air dan angin berkaca di depan bulan dan kita nikmati dari tepi Saguling

Bandung 1988

 

 

 

Lelah. Mungkin nafas tak lagi bisa

 

 

 


kurangi rasa. Berat langkah untuk bangkit ke depan. Apa masih perlu bergerak saat ini?

Jarak dan batas

 

 


tak pernah kurang. Kita duduk sambil rasakan asin keringat sendiri Lepaskan baju. Telanjang berkaca pada waktu

Sampai di mana perjalanan yang telah kita lampaui?

Banyak. Semua

 

 


tersimpan sambil menghitung untung-rugi Kapan kita akan sampai?

Semua menunggu

 

 


Sedang jalan masih juga jalan yang dulu.

Bandung 1988

 

 

 


Berumah di Tepi Sungai

 

 

 

Dari dalam dinding kaca rumah di tepi sungai

 

 


menghampar rona potret rumah-rumah kumuh milik pekerja yang banting tulang sehari semalam untuk

menundukkan kehidupan ibukota Dari beningnya cermin ini Aku berkaca pada angan-angan yang bermain pada riak

air tengah hari ditemani alunan musik ‘compact disc’ Aku merasakan tinggal dalam kerangkeng!

Aku rindu kembali ke ladang masa lalu

 

 


yang berderap setiap waktu untuk berpacu

Di sini, di rumah kaca di tepi sungai

 

 


tidak ada angin cuma belaian ‘air conditioner’ bercampur asap rokok dan berhitung cermat untuk melangkahi

pertarungan demi pertarungan sambil berharap mengibarkan bendera kemenangan

Sungguh, dari balik kaca di rumah tepi sungai

 

 


dari kamar yang terletak di lantai 20 ini tidak pernah bertanya lagi langkah esok pagi selain siap bertempur dengan

rancangan sesuai aturan

Dari rumah kaca di tepi sungai

 

 


sepi memanggil-manggil …

Jakarta, 1994

 

 

 


Sebab

 

 

 

Sebab gelombang mendorong darah

 

 


Sungai mengalir deras dalam aortaku Menghilirkan pencalang rindu Mengembara ke samudera hidup Sebab angin

menerpa masa laluku Menerbangkan angan-angan Rasa melayang-layang Berbisik dan berlalu Sebab angin masa

lalu melahirkan gelombang Di tengah samudera hidup Angan melayang-layang Melihat pencalang rindu karam.

Tenggelam

Jakarta, 1995

 

 

 


Mengenang Ayahanda

 

 

 

Terpisah. Kembali jarak memadu resah

 

 


Sementara rindu berpacu. Aku pun ragu Setelah waktu berjalan sudah. Aku lelah mencari kata tanpa bertemu.

Beku dalam windu demi windu suaramu membakar setiap jengkal dada tiada kalimat yang dapat merapat. Hati

terjerat Ayahanda Aku ingin sekali mendekat

Kembali jarak dikuak. Barangkali angin sampirkan pesan tentang ragu yang terbentang. Barangkali jalan semakin

 

 


lapang Semakin lelah. Semakin lelah. Semua menjadi bimbang dan darah beku menggumpal-gumpal. Semua tinggal

impian Ayahanda Aku di sini masih mengurai seribu cerita dan membaca sejuta makna dalam katamu saat menyisi…

Jakarta, September 1996

 

 

 


Malinkundang

 

 

 

Dalam gelombang zaman, aku datang

 

 


meniti masa mabuk di antara bayang-bayang Tinggalkan malam kelam dan sambut pagi cerlang dengan mentari

garang membakar setiap hati yang bimbang

Sudah kujalani rentang malam dalam dengus nafas hitam Sudah kurasakan jalan panjang dengan hati remuk redam

 

 


Sudah terbentang ribuan kali rindu yang terpendam Hati tak pernah diam

Begitu rantau jadi tanahku

 

 


Begitu rindu aku ingin kembali Makin jauh langkah. Makin bisu Aku kehilangan kendali

Kali ini aku ingin bicara denganMu dari hati ke hati Mengapa sangsi selalu tercipta ketika nurani menatap hati?

 

 

 

Seribunda digjaya telah Kau beri

 

 


Tinggalkan masa kelam selusuri kubang pilu dan kini melangkah dengan dagu diangkat ke atas Tinggalkan

masa-masa lapar, dahaga dan papa dan kini sarapan di Le Meridien, makan siang di Tunglok dan santap malam di

Mandarin Tinggalkan tidur dengan mimpi-mimpi panjang dan kini dunia di atas telapak tangan Seribunda digjaya

telah Kau beri

Aku makin asing sendiri

 

 

 

Kalau pun Kau angkat aku dari kubang sampah menjadi bangsawan menjadi konglomerat yang dulu menggoda

 

 


mimpi dalam setiap tidur panjang Kalau Kau sandingkan aku dengan Madonna yang dimimpikan semiliar laki-laki di

jagat ini dibanding dulu, Siti Rahmah –bunga desaku– tak sedikit pun melirik sebelah mata padaku Kalau Kau beri

aku Baby Benz yang melaju tenang di jalan tol sedangkan dulu kaki lepuh terus berjalan mengembara ke ujung

rantau Nyaris semua telah Kau beri Namun diriMu Kau simpan jauh-jauh. Jauh

Akulah Malinkundang zaman

 

 


Ingin merentak dendam ketakberdayaan Setelah berhasil melepas rantai yang mengekang ratusan tahun Setelah

puluhan tahun dininabobokan barang rongsokkan Jepang Sedang di depan menghadang ribuan kembara alang

kepalang Langkah dalam denyut informasi Jalan panjang pasar global menghentak-hentak Akankah aku melaju

dalam jalanMu?

Aku yang kehilangan Bapak dan dibesarkan Ibunda dalam papa Aku yang besar dalam belaian ombak dukana Akulah

 

 


Malinkundang itu yang minta izin Ibunda pergi tinggalkan tanah mencari rantau membangun mimpi dari hari ke hari

Akulah Malinkundang itu yang membangun negeri namun kehilangan diri

Ibunda, aku rindu tanahku!

 

 

 

Kalau hari ini aku kembali

 

 


dengan pesawat jet pribadi dan Madonna menjadi menantumu dan Michael Jackson mendendangkanmu dan seribu

remaja mabuk ecstasy sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pesta kembalinya anakmu dan

mendengarkan ‘house music’ melangla Aku tetap anakmu Kalau hari ini aku kibarkan kutang kucalmu yang pernah

kusibak saat menyusu dulu dan sejuta manusia perlahan mengangkat tangan dan memberi hormat Semua adalah

milikmu. Seperti peluru yang siap menerjang, aku datang, Ibunda, aku datang dan semakin dekat. Semakin

mendekat

Akulah Malinkundang itu

 

 


yang harus menjinakkan kata dalam kalimat panjang meredam luka yang makin meruyak Akulah Malinkundang itu

yang harus berlayar dalam fikir dan rasa melupakan cinta yang boyak Akulah Malinkundang itu yang kehilangan

perempuan saat mendekapnya dan mencium jalan-jalan. Lengang

Ibunda, dengarlah, Ibunda

 

 


Setelah kutinggalkan kampung halaman berikut dukananya Kutimba jalan dalam sejarah diri. Kubakar jiwa

membenamkan papa Kusingkap hidup. Kusongsong hari demi hari dengan dada busung bukan terbenam di ‘fitness

center’. Kuraba sepi yang limbung Aku terseok-seok di kaki lima sambil menjaja barang yang ada di antara razia

dan perburuan Tramtib yang suka menggoda kaum jelata dan menunggu kesempatan hidup naiknya roda Ingin

kurasakan luka panjang ini nanti, saat derai tawa membahana Dari waktu ke waktu dan menyisihkan laba demi laba

serta berani menerima risiko lebih tinggi. Aku meniti tangga Perjalanan memang bukan sebentar seperti lautan luas

mendekap sang kapal layar dipermainkan ombak dan angin dipermainkan kehendak dan ingin

Akulah Malinkundang itu

 

 


yang masuk bangku perguruan tinggi sambil berdagang kaki lima mempertaruhkan ijazah untuk memutar roda zaman

Akulah Malinkundang itu yang terlunta-lunta dari kantor ke kantor merasakan realitas: Tiada berarti selembar ijazah

untuk bekerja seketika merobah hidup tinggalkan papa Akulah Malinkundang itu yang bergelut dengan keringat dan

airmata menaklukan ibukota dan segala permasalahannya untuk membangun istana rindu bagimu, Ibunda!

Kalau malam ini, Malinkundangmu terdampar di Hardrock Cafe Percayalah, tidak akan pernah kujamah ecstasy yang

 

 


tak pernah kau mengerti namun semangat dan jiwaku terus mengembara entah ke mana. Tak berhenti Kalau malam

ini, Malinkundangmu tampak di layar TV dan seribu wartawan bertanya ini-itu sambil sebarkan gosip Percayalah,

Malinkundang itu anakmu Bagaimana malam ini kita duduk bersama di pinggir kolam Hotel Horison sambil menikmati

‘seafood’ dan cerita panjang tentang pasar bebas Kita bisa tukar pikiran bagaimana meninggalkan industri tekstil

yang penuh barikade kuota ekspor dan masuk ke dalam jantung komputer Boleh saja percaya Naisbitt atau kembali

ke para normal Jayabaya dan orang-orang Jawa setiap hari membangun mimpi dengan mimpi dan mimpi-mimpi

Percayalah, Malinkundangmu akan kembali…

Akulah Malinkundang zaman

 

 


bukan lagi pakai jeans belel dengan T-shirt kucal dan mengendalikan Hardtop tapi pakai tuxedo dengan sepatu

Bally mengkilap dan turun dari Roll Royce Akulah Malinkundang zaman yang berani melepas sebagian saham

perusahaan ke pasar modal dan memainkan dana demi dana untuk melahirkan dana dan dana lagi Akulah

Malinkundang zaman yang berfikir dengan prospek dan mencium setiap gerak langkah keadaan sambil

mengolahragakan jantung setiap waktu berdetak memacu atau tenang-tenang saja sambil menghirup nafas lega

karena cinta pada kehidupan bukan pada perjudian Akulah Malinkundang zaman yang berladang di berbagai sektor

disebut-sebut sebagai diversifikasi dengan seribu eksekutif muda bernaung di dalamnya dan kesempatan cuma

sekali datang selebihnya mimpi gelap yang tak pernah sudah Jadi, ambil dan menang atau kalah sudah biasa dalam

pertarungan

Saat semua sudah di tangan

 

 


Kini aku pulang Setelah gelombang datang dan berenang di antara debur ombak kemudian pergi menghilang Saat

semua sudah di tangan Kini aku pulang karena berjalan bukan sekadar di padang perburuan Cuma ingin kuburkan

rindu yang terbakar Saat semua sudah di tangan Kini aku pulang

Ibunda!

 

 

 

Jakarta, 1996

 

 

 

Lagi-Lagi
titip salam buat Bill Clinton

 

Lagi-lagi tangan-tangan Yankee menorehkan kehebatan di antara junta yang papa di Irak Selatan Beginilah polisi

 

 


dunia ambil bagian Seberapa bisa bicara 27 rudal AGM-56 dan Tomahawk yang terkendali menjelajahi sasaran

berjarak jauh dan seberapa bisa terdengar tangis perempuan dan anak-anak setelah dentuman demi dentuman

menyapa tanah Sadam Hussein Barangkali lewat ‘rally-rally’ kampanye yang panjang dan suara serakmu, Clinton

Ada suara tangis perempuan dan anak-anak Yang jelas, suara itu bukan suara-suara Yankee manis! Sederet

panjang alasan dapat dipaparkan dari meja perjamuan penuh cocktail dan brandy untuk membumihanguskan

ketidak-berdayaan (Mengapa B-52, kapal Shiloh dan Laboon tidak banyak bicara saat pembantaian ras di Bosnia

sana?) Seberapa banyak air ludah tumpah mengumbar janji untuk mendapat kepentingan pribadi, memperpanjang

waktu di kursi kepresidenanmu? Jika miliaran manusia dulu menggantung harap padamu, Clinton agar lebih

manusiawi ketimbang George Bush dan dunia lebih demokrat Kini wajahmu mirip kayu congklak yang biasa

dipermainkan anak-anakku Terlalu banyak lobangnya, Bill Lupakah dirimu, Bill George Bush sudah frustasi

menghadapi Sadam Hussein dan engkau pun tidak pernah bisa menangkapnya, bukan?! Ayolah, Bill Kita semua tahu

Sadam Hussein kelimpungan cari obat-obatan dan makanan setelah hukumanmu yang terlalu memberat-beratkan

Lantas, Bill dari ketidak-berdayaan Sadam Hussein itu Seberapa lagi kebinatanganmu tumbuh setelah hak asasi

manusia untuk hidup dibumihanguskan oleh suara serakmu. Ayolah, Bill pamer unjuk kekuatanmu bukanlah di

ladang-ladang Irak Ikutlah olimpiade dan berlombalah di sana karena engkau bukanlah wasit dunia

Jakarta, September 1996

 

 

 


Kepada Aria Kusumadewa

 

 

 

Banyak sekali mimpi berkubur dalam tidur. Panjang

 

 


perjalanan hanya lorong lengang tanpa orang Setiap kata ingin dieja dalam bunga malam penuh busa dan kelu

menjadi warna setiap pertemuan Barangkali bukan sekadar mata dan tali kasih perempuan yang menjura-jura ketika

terjaga. Rasa menjadi bayang-bayang selepas mentari datang Kemudian dada lapang songsong langkah raja siang

Baiklah. Kita tidak bicara lagi tentang Jepang atau Padang yang mengusik malam menjadi bualan karena rindu

 

 


kembali pada nurani Ketika sepi menyisi perjalanan terekam dalam igauan antara kata dan lubang kamera tersimpan

tualang jalang

Kalau malam ini mereguk kopi pahit dan dingin

 

 


dengan mengepulkan asap mimpi lewat rasa dan mata angin Kita luncurkan bualan lain dalam permainan igauan

karena cinta tidak selalu perempuan dan perempuan

Karena bahasa adalah rasa

 

 


yang rahasia selalu terjaga

Jakarta, September 1996

 

 

 


Kepada Tuan Marzuki Usman

 

 

 

Anggap saja aku duduk di depanmu

 

 


melontar tanya yang selalu mengganggu tentang Abu dan Badu, dua orang di antara 190 juta penduduk Indonesia

Abu itu ‘wong cilik’

 

 


Kerjanya sektor informal tidak terkena objek pajak Penghasilannya, pas-pasan UMR pun tak berkutik Berkediaman di

rumah gombal Kata orang, tipe RSSS alias Rumah Sangat sempit Sekali

Badu itu konglomerat

 

 


pemilik ratusan perusahaan Sektornya sektor formal dari hulu hingga ke hilir Dari PPhnya sudah ketahuan Termasuk

Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar Berkediaman di Pondok Indah, lagi

Saat membandingkan antara Abu dan Badu

 

 


Selalu tanya mengganggu Siapa lebih kaya di antara keduanya?

Coba bandingkan saat membeli beras

 

 


Keringat habis terperas Satu hari pas Abu cuma sanggup beli beras Satu kilogram Harganya Rp 1.500 di pasar

Namun Badu bisa membeli saat batang padi masih menghijau di sawah dan diborong berhektar-hektar Cuma

harganya Rp 500 per kilogram

Coba bandingkan lagi saat membayar pajak

 

 


Anak-anak Abu ingin menonton Pergilah Abu ke toko membeli televisi hitam-putih Dalam kuitansi tertera PPn 10%

Namun Badu saat oknum mengambil SPT-nya di rumah Badu Menyelipkan pelicin sehingga PPhnya menciut sekecil

mungkin Begitu pun termasuk Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar

Coba bandingkan lagi soal waktu

 

 


yang kata orang berharga itu Bagi Abu pergi ke Tanah Abang untuk berdagang Bisa menghabiskan berjam-jam

karena keenakan berhimpitan dalam bis kota di tengah kemacetan ibukota Namun Badu pergi ke kantornya di

bilangan Segi Tiga Emas Jakarta Cuma 15 menit dari rumahnya menggunakan Baby Benz lewat jalan tol, tentunya

Coba bandingkan satu lagi soal waktu

 

 


dalam urusan penyelesaian KTP Bagi Abu mengurus perpanjangan surat sakti itu, yang selalu ditanyakan Petugas

Kamtib, yang tarif resminya Rp 1.000 Oknum-oknum meminta bagian sampai Rp 30.000 dan selesainya sampai 6

bulan Namun Badu cuma keluarkan dari kocek Dua lembar Rp 50.000-an dan KTP baru diantar ke rumah 2 jam

kemudian

Coba bandingkan lagi soal biaya perawatan

 

 


Bagi Abu, kalau bisa beli mobil Pasti mobil kelas Mazda Kotak Sabun Yang tahunnya kelewat tua dan setiap 3 bulan

langganan bengkel menghisap dana perawatan lumayan besar untuk kantong Abu Namun Badu sudah

menjadwalkan Setiap awal tahun beli mobil baru dan akhir tahunnya segera dijual Biar tidak masuk bengkel,

katanya

Coba bandingkan lagi soal kesanggupan berutang

 

 


termasuk membayar bunga Bagi Abu memasukkan anaknya sekolah ke perguruan tinggi Memang cita-cita merobah

nasib Cuma Abu rela pergi ke Perum Pegadaian Menitipkan agunan senilai 4 kali pinjaman dengan bunga 4% sebulan

dengan masa hangus 6 bulan Namun Badu saat membangun perusahaan barunya, kata orang, diversifikasi usaha,

datang ke bank cuma bawa studi kelayakan tanpa agunan dan kredit ratusan miliar mengucur dengan sukubunga

paling tinggi 20% Malah seringkali negosiasi, lebih rendah lagi dengan masa pengembalian sedikitnya 5 tahun Kalau

pun macet, utangnya bisa dihapuskan

Coba bandingkan lagi soal memanfaatkan teknologi

 

 


Bagi Abu mengabarkan berita pedih kepada ayahnya di kampung tentang kematian adiknya saat tertangkap tangan

mencopet, yang paling cepat pergi ke Wartel dan menginterlokal ke Kantor Kecamatan, sekitar 3 KM dari kampung

halamannya, karena telepon baru sampai di sana, sebagai salah satu keberhasilan IDT Sambil terbata bercakap

dengan ayahanda matanya mendelik ke arah digit demi digit yang bergerak Angkanya sudah ratusan pulsa Namun

Badu saat pesan kiriman barang dari luar negeri cukup dengan masuk ke internet dan pulsanya cuma puluhan

Ya, tanya itu selalu menggoda

 

 


Siapa sebenarnya yang lebih kaya di antara keduanya…. Abukah? Badukah? Ya, anggap saja ini bukan

omongkosong di antara kita

Jakarta, 1996

 

 

 


Berita Pagi

 

 

 

Potret headline pagi ini:

 

 


Kuburan Massal sekitar 3.000 hingga 8.000 mayat Muslim Bosnia dibantai pasukan Serbia pimpinan Ratko Mladic di

Srebrenica dalam perang pendek tahun 1995

Aku menggigil membacanya. Sungguh!

 

 

 

Dikabarkan juga

 

 


ada upaya-upaya menghapus jejak pembantaian sekitar 3.000 mayat Muslim di Bracko, Utara Bosnia dengan

memasukkan mayat-mayat itu ke truk-truk berpendingin dan diangkut ke bekas pabrik daging, Bimeks, produsen

pakan ternak

Masyaallah!

 

 

 

Bagaimana mata para pemimpin PBB masih tertutup

 

 


saat melihat padang pembantaian ini Padahal setiap detik dalam sidang PBB selalu penuh dengan busa tentang

hak-hak asasi manusia

Ya, Allah

 

 


Bukakanlah mata mereka

Jakarta, 1996

 

 

 


Sajak Oktober

 

 

 

Hidup bukan dari kartu di atas meja, kendati sorot mata menyala-nyala mempermainkan nafsu dengan segala duga.

 

 


Kita sudah tidak bisa membaca tanda-tanda. Setiap kali lewat mengangkut mimpi ke padang gembala Biarlah

sudah! Tidak ada persahabatan atau hiasan kata-kata mutiara. Selain serapah dengan rasa paling transparan.

Tanpa basa-basi Hidup bukan ladang sangsi, kendati semua tidak ada yang pasti Bayangkan. Begitu banyak

angka-angka bercerita tentang seribu kisah dari sejuta manusia yang terdampar di pelabuhan meja. Kuasa jiwa tak

pernah terjaga dan hati semakin tipis. Tidak ada yang bisa membaca lagi Kata-kata sudah musnah Kita hanya

melangkah dari suatu ladang sangsi ke ladang sangsi lainnya Semakin jauh Semakin jauh

Jakarta 1996

 

 

 


Ketika Kata

 

 

 

Seperti kijang masuk rimba, kutemukan kata di setiap sudut senja yang datang menghampiri matamu. Seperti

 

 


gerimis sehari menghapus setahun kemarau galau, kudekati kata di dalam matamu yang mengatup ketika senja

lewat begitu saja. Seperti rimba kata yang menyesatkan dalam kembara hati dari sudut matamu dan melangkah

ringan di antara pohon-pohon dan bau tanah Seperti gerimis yang membasahi hatimu setelah setahun galau

menunggu langkah yang tak pernah kembali dan sudut mataku terpaku padamu dari balik istirah di antara

daun-daun lebar dan suara-suara hewan. Seperti engkau masuk rimba melupakan kosmetika dan stocking, aku

semakin heran atas penderitaan yang dipaksakan namun kau senangi. “Aku masuk rimba bukan seperti kijang

masuk kampung yang bingung,” katamu dalam nada penuh yakin tanpa tedeng aling-aling. Seperti

sehari tangismu menghapus canda setahun yang manja dari balik wajah itu, aku semakin heran karena sorot mata

dan kata-kata semakin misteri ke balik airmata. “Aku semakin mengerti makna tangis sehari di antara senyum

manja dan peluk rindu setahun penuh,” kataku sambil mencari-cari kata yang paling tepat untuk mengajukmu.

Sungguh!

Jakarta, Oktober 1996

 

 

 


Sebaris Gerimis

 

 

 

Sebaris gerimis

 

 


membasahi kembara panjang Seorang tualang menjelang petang belum juga mabuk mereguk waktu dalam sepi

meniti jarak dan menggali mimpi lagi. Masuk ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta Ketika sukma

menembus sela-sela hujan Bisu pun beku Aku berlari menyelimuti dingin dan kembali mencari-cari ke dalam hati, ke

dalam jantung Engkau sudah jauh berlalu Sebaris gerimis menetes dari balik rambut yang basah Mata berpendar

menatap bayang-bayang menghilang dan aku di sini Sendiri

Jakarta, 1996

 

 

 


Dari Jauh

 

 

 

Mungkin seperti kereta pergi meninggalkan statsiun dan melewati ladang panjang penuh bunga matahari Aku

 

 


terjaga dari kantuk berat dan menatapmu sebaris tampak dan sebaris hilang

Waktu terus berjalan. Menahun

 

 


menuju hari ke tiga puluh membakar sangsi Engkaukah yang melangkah sebarkan rindu dan mendekat? Seribu mata

mengiring desah kereta dan luka terbelah seribu Aku rasakan basahnya udara pagi dalam nafas hari petang

Sungguh!

 

 

 

Kalau pun malam tiba

 

 


Rel panjang ini tetap dingin di sandaran balok-balok kayu bercerita panjang tentang kedatanganmu dari jauh. Dari

jauh Di mana kata tak ada lagi Bangsi kehidupan sudah lama membisu

Aku berdiri merasakan irama gesekan roda dengan rel sambil mendekatimu dari ladang-ladang bunga matahari

 

 

 

Begitu panjang waktu mengurung

 

 


Begitu rindu mata menawarkan sepi

Jalan panjang terbentang. Sendiri

 

 


Jakarta, September 1996


Antara Cawang-Cikampek

 

 

 

Semua datang seketika mengantarkan waktu dan menyimpan rasa. Kaku menjalar di ruang antara. Menyisakan

 

 


canda dari dalam kalbu. Rindu menyebar ke setiap centimeter kubik darah dan memancar lewat mata. Jauh

Lengang. Barangkali musik menjadi teman dan mulut selalu menyebut: Allah! Allah! Allah! Sebelum warna membiru

memerangkap waktu menjadi kaku dan rindu memancar jauh berteman lengang. Sungguh! Semua datang

mengantarkan rindu

Kusebut lagi namaMu:

 

 


Allah! Allah! Allah

Jakarta, 1996

 

 

 


Kepada Alfatihah RMNSPM

 

 

 

Setiap hari mengejar bayang-bayang tanpa sudah. Waktu melangkah dengan pasti menggunting setiap jejak.

 

 


Sejarah tersimpan dalam-dalam. Maut pun menegur sisa rindu Ketika malam hampir datang dan bayang-bayang

terbenam dalam kelam. Aku melangkah patah-patah Melihat jejak dalam sejarah: Hitam Barangkali aku ingin duduk

ditemanimu dan bacakan kisah panjang tentang cahaya sambil memijat kaki memecahkan tumpukan asam laktat di

aorta Sungguh! Ketika malam menjadi bunga. Api membakar sejarah Hati terpanggang. Wajah lembam dan

menyerah Barangkali aku benar-benar lelah

Ananda,

 

 


bacakan doa dalam setiap

 

3 Responses to “Kumpulan Puisi Terindah”

  1. awah bagus nih…kenapa ngak bikin antologi puisi…stensilan jg ngak apa apa :)

  2. ========
    ========

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

    ========
    ========
    rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren

  3. Hanya berkarya Ringan, Skrang kalau semuanya diliat bagus kapan kita akan puas dengan diri sendiri :D sorry bro….
    kapan2 dech pindahnya :)

    wah kalau bikin antologi puisi boleh juga seh , liat ntar dech , doain ya skrng lagi ujian nih

    thank’s pada bro……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: