Kumpulan Puisi Terindah
By Cairo
Category: Buku, Cinta, Friendster, TuLisaN, Untuk sahabat, wajib baca
“ Kumpulan Puisi Terindah “
Sempat Jadi Kata yang Indah yang Pernah Aku rasakan
kuberi pelangi pada kerling senyummu
sambil kulukis pantai, ombak dan perahu
di matamu
kubungkus secarik sutra ungu
dan kusimpan diam-diam dalam mimpiku
Pernah jadi Bingkai Yang Indah Dalam Ruang kertas yang Putih Untuk kurasakan , Walau Saat Itu tak Seindah yang Aku rasakan …..:) Nih Kumpulan Puisi yang Laenya, Andai minat Ambil Aja Gpp Kok
untuk mengukir namaku dalam hatimu
untuk membuat bingkai lukisan wajahku
bila saatnya sampai kuingin pahatanmu tak tinggalkan luka
Sept. 04
yang terduduk di taman hatiku dengan tangan menyangga dagu
dengan kulitku yang dilumuri embun kubiarkan tubuhku tanpa selembar benang
sekilas terlihat kau mengintip dari sudut matamu, hanya sekilas
engkau kembali menusuk rumput hijau dengan sinar matamu, redup
kulihat rumput-rumput menengadah menatap ngangah
mungkin mengagumi sayu wajahmu yang ayu
mata indah tiada berkedip, menyelidik
aku biarkan mata hatimu masuk lewat lorong hitam mataku
agar engkau tahu, hatiku telanjang untukmu dan
kubiarkan, kuresapi kecup bibir matamu dikening hatiku
senyummu mulai beranjak bangkit
kurasakan tangan berkulit bangsawan memagut
bibir pori-pori bungkam terpana
kulit seindah putri raja menyentuhnya dengan rasa percaya
daun-daun mengangguk
tanah tersenyum bijak
daun-daun yang rela menyerahkan embun paginya
untuk jiwaku yang tengkurap saat pagi
tanah yang ikhlas memberikan sapa sejuk embun yang meresapi
untuk jiwaku yang meminta pada fajar
Sept. 10
hingga kabar dari kutub tak kudengar
walau kumerangsek maju, dia mundur
kuciptakan cermin dari langit biru
kulihat diriku bercat putih pucat layu
Setp. 04
Kala kelam menjaring hari
‘ku duduk disini
serupa bintang di langit sendiri
menyeruak kamar
penuhi alam sekitar
Selalukah rindu berkalang pilu
Atau cuma khayalan semu
…….bayang pengantar tidur ?
Surabaya,27 Sept 2002
Maafkan hamba yang berhati hitam
Yang kadang terlupa dan sering sengaja
Mengaburkan nurani tuk menikmati dunia
Jangan buat ini takdir abadi
Yang membuatku tak lagi mengenali-Mu
Hingga aku tak bisa memilih surga dan neraka
Duh Sesembahan abdi Maha Dewa
Terangkan mata ini dari kegelapan
Pisahkan jiwa dari keangkaraan murka
Bangkitkkan lagi birahi suci untuk memuja
Duh Sang Pengasih tiada kenal pilih kasih
Anugerahkan sedikit ketakutan
Karena aku terlalu berani untuk lupa
Bahwa alam-Mu bukan hanya dunia
Duh Raja Diraja Maha Perkasa
Hilangkan segala ragu dalam akal matiku
Penuh kebimbangan dan berselimut tanya
Adakah kebenaran dirimu berada
Duh lelabuhan akhir segenap asa
Mundurkan sejenak saat maut untukku
Sempatkan aku tahu apa yang Jibril bawa
Mungkin hati kecilku akan mampu terjaga
Karna aku bukanlah yang terpilih
Sedang aku menghinakan diri padamu
Karna ia akan dicambuk bila mendustai tuannya
Engkau seperti bintang di langit
Aku selalu melemparimu untuk jatuh
Tapi batu itu kembali memukulku
Aku menangis kau hanya membisu
Kau tertawa aku terpaksa mendengar
Benar-benar terkutuk aku!
kalau tak mau bercinta denganku
Tak perlu kau meludah sampai aku tenggelam
Bunuh saja aku!
Bagiku cinta adalah engkau
Dan bagimu cinta adalah kepuasan
Sedang aku selalu lemah di depanmu
Andai saja ada dunia
Dimanapun…
Dan dirimu tiada…
patahan demi patahan sedu yang jadi partikelnya
di tiap butiran hujan melerai angan
sebegitukah serentetan sunyi yang telah tertata?
bermakna dalam nomenklaturnya yang rahasia
ya, dan detik berhamburan
jadi ombak yang pecah waktu kita melayari kata kata
berlagak musisi layari instrumen kecintaan hati
tak lagi dengan jemari
bermetronom jantung sendiri
moderato cantabile
cressendo
cressendo..
dan rinai hujan pun bernyanyi
di langit cerah tanpa hujan sama sekali
Langit bicara tak terdengar
Hati tak terjamah sayap malaikat
Menelungkup dirawa rawa kegelapan
Aku telah lama berkabung
Atas kematianku sendiri
jalanan riuh surabaya yang meras peluh ayahku
megah supermarket membocorkan tabungan ibuku
dan teman kecilku yang ditenggelamkan waktu
sajak-sajak lilis marliani
Dari ujung telunjuk ditulisnya nama panjang dewi sri
Pada telapak tangan digambarnya perempuan
sedang membasuh kaki lelaki
Pada siku dibuatnya lingkaran lembut bulu angsa:
anak kucing lelap di perut bunda
“Bu, untuk siapakah perempuan hidup?”
Ibu diam sambil terus melukis kamasutra di ketiakku
Lantas aku minta digambarkan belati pada pundak
Ibu marah; aku tak peduli
Ketika ibu pergi dan tak kembali
ku gambar sendiri belati
di pundak kiri
Dia temanku
manis, semampai
juara kelas sejak te-ka
pernah jadi
buruh
pintal di pabrik tekstil
dekat sungai Cisadane
Dia kepingin kawin dengan angin utara
tetapi selalu angin selatan
yang mampir di beranda
dia kepingin kawin dengan rama-rama
tetapi selalu
cicak yang menyapa
Di jendela kontrakannya
senja telah melipat diri
angin pamit pulang kampung
tetapi Aida gadis tigapuluhtahunan
masih memilin-milin poninya sendiri
sampai pagi
Selalu begitu setiap hari
Dua belas tahun lewat
kebetulan kujumpa dia di stasiun kereta Gondangdia
dengan dua balita di gendongan kiri dan kanan
kembar rupanya
dan sebuah kantong plastik besar di kakinya
Entah mengapa
Aida (yang dulu) manis sekarang menangis
tangisnya lebih keras dari lengking kereta ekspres Pakuan
Mengalirlah seribu kisah tentang lelaki yang dikawininya
ternyata berhati lalat hijau bertaring hyena
bertahun-tahun setia, berdiri patuh di belakang kemejanya
mengharapkan sekedar lubang perlindungan dari sepi
“Masih adakah pabrik tekstil dekat sungai?”
Aida kepingin kembali berdiri di dekat jendela kontrakannya
bukan untuk memilin poni
melainkan memilin benang nasibnya sendiri
Nasibnya sendiri
Untuk Nandyasa
Tak pernah sekalipun dalam hidupku terfikir untuk berhenti memberimu
kelopak-kelopak mawar yang kutanam di beranda ketika kau baru berusia
dua hari. Dengan kelopak-kelopak itu kuajarkan kau satu-dua-tiga dan
merah-putih-hitamnya hidup. Ada keputusasaan ketika kau sulit mengeja
ma-war me-rah ke-lo-pak pu-tih sambil sebutir dua butir air mata
kita
berdua jatuh di atasnya
Pagi ini kelopak-kelopak mawar yang bertahun-tahun kita kumpulkan
dengan segenap senyum dan isak tertahan, telah menjelma rumah bagi
kupu-kupu
Jangan tanya adakah aku mencintainya
Lelaki hyena ada di mana-mana
Jangan kira aku percaya padanya
Meskipun katanya aku Cleopatra
Padahal aku cuma stasiun kereta
Entah apa yang sedang kulakukan
Ketika kulayarkan dendamku dulu
Ia mampir menawarkan pelukan
Lantas kubayar dengan bulan setengah bulat
Melautlah segala kebencian
Yang ditanam lelaki sebelumnya
Barangkali aku memang mencintainya
Seperti cinta kanak pada peri ungu
Barangkali juga aku cuma hyena betina
Lelakimu terus menghujaniku dengan bunga dan mimpi
Sementara kudengar isak burung bangau di padang pasir
“Laut begitu jauh, begitu jauh debur ombak”
bayangmu gemetaran di tengah terik padang
tak ada tangis
ada oase di bening matamu
aku merasa bersalah
Pada bulan ke tujuh belas dendamku lunas
Cintaku ludas terus menerus dimakan bayang putihmu
Kudatangi dirimu
Kau sambut aku dengan pisau dapur di tangan
“Lihat, aku tidak memakai rok mini
aku tidak merokok
aku tidak suka film porno
aku benci diskotik
aku tidak pernah mencopet dompet suamimu
aku selalu menyuruhnya pulang ke rumahmu”
“Aku tak punya apa-apa selain suamiku”
Suaramu kah itu yang gemetar tertelan putus asa?
Ada laut memisahkan kita
Di mana perahu nabi Nuh?
Ingin aku berlayar ke pulaumu
Memeluk kakimu seperti pernah sekali
Kucium kaki bunda
Kau diam membisu di situ
Dalam api yang kukenal betul baranya
Sesungguhnya
Aku adalah dirimu
Entah di mana pernah kubaca
Perempuan di mana-mana
Kembar dalam perasaan
Kemarikan pisaumu
Biar aku mati di ujungnya
Jika ini satu-satunya cara
Menghentikan pendulum bingung
diaun-ayun waktu
Sebuah diam pernah dicintai kebisingan dengan dasyatnya
hingga hampir saja ia beranjak dari pertapaanya
Seseorang yang bijak mengingatkannya bahwa diam adalah emas
bicara adalah kuburan yang dihuni sejarah kebencian
Diam-diam sang diam tak bia mengelak dicintai
kebisingan sebab sesekali kulihat dalam semedinya
ia nikmati sorak-sorai, makian, dan tangis
dengan diam-diam sekali ia bermimpi berhenti bertapa
kabur ke pulau entah yang mengizinkan
sunyi dan sorak hidup berdampingan dalam damai
Tetapi sekali lagi ia diingatkan
diam adalah adiluhung sementara kebisingan
cuma sampah di telinga
Hingga waktu sekarat di telapak tangannya
tak seorang pun tahu siapa pemenangnya
Dulu pernah aku berdiam dalam kata-kata, mencoba bernegosiasi dengan
hatinurani yang tak henti-hentinya memprotes agar aku berhenti saja
mencintaimu. Sebab cinta yang tak berbalas itu taik kucing.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu
Dengan lapang dada aku menyaksikan kau kawin dengan bulan kau kawin
dengan angin kau kawin dengan kupu-kupu kau kawin dengan kembang
bakung……..bahkan kau juga kawin dengan matahari . Lantas kau terbakar
hangus jadi debu.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu
Seperti seekor burung yang tercecer dari kelompoknya aku menepi di
pucuk angin dan bernyanyi sendiri sembari menggenggammu dalam mimpi.
Susah payah logika meyakinkanku bahwa ombak takkan pernah kepingin
menetap di daratan. Meski memang sekali-kali ia mengunjungi kita, tapi
cuma mau mengembalikan botol aqua dan plastik chiki yang tercecer
ketika kau mengunjunginya di samudra.
tetap saja aku
mencintaimu
Lama aku berdiam dalam senyap,menjauh dari kata-kata, bermusuhan
dengan
logika. Terlalu lama mereka menyiksaku; memakiku; idiot! Padahal
kesalahanku cuma satu: jatuh cinta padamu!
Hai! Aku si idiot, jatuh cinta padamu. Dan aku bahagia.
Peduli apa!
Cimanggis 13 Februari 2000
setiap pagi kita saling menyapa
“selamat pagi, sayang” katamu
“mimpi indah semalam?” tanyaku
sembari mengelus hidungmu
kau balas mengelus hidungku
di cermin, kita saling memuji:
“meski kau belum mandi pun
aku betah memandangmu”
dan kau tersenyum untukku
“kamu tahu, kau satu-satunya
yang tak pernah menyakiti hatiku”
kataku, kau tersenyum lagi
“kau selau baik padaku
kau selalu mengagumiku” katamu,
“seperti juga aku mengagumimu”
orang-orang semakin jauh
meninggalkan kita dan
kita semakin erat tumbuh bersama
“kau satu-satunya yang selalu
ada ketika kuingin kau ada”
sering kita rayakan pesta gila-gilaan
di depan cermin
aku dalam gaun pesta ungu, kau juga
aku dalam lipstik ungu,kau juga
aku dalam goyang samba,kau juga
lantas kita tertawa-tawa
enak juga, hidup cuma untuk berdua
selalu sepakat untuk segala hal
Perempuan berblouse kembang berdiri
di bawah hujan. Mau kemanakah dia?
Sedari tadi berdiri saja dalam resah
payungnya bergoyang-goyang digoda angin kencang
berkali-kali dihampiri bis dan mikrolet segala rupa
satu dua sedan mewah menghampirinya sekaligus
mencipratinya dengan lumpur hingga ke rok ungunya.
Tetapi tetap saja ia berdiri di situ
Adakah ia menanti seseorang yang dicintainya
sebab begitu setia ia berdiri di bawah
cuaca yang tak kenal kata kasihan
Orang-orang datang dan pergi berganti-ganti
yang tak berubah hanyalah
hujan yang turun seharian
dan perempuan berblouse kembang
setia berdiri di pinggir jalan
padahal payungnya merengek-rengek
kepengin pergi bersama angin dan hujan
yang terus-menerus menggodanya
Perempuan berblouse kembang,
sampai kapan kau menunggu?
C.22.2.00
Jadi perempuan berarti jadi obyek iklan
arisan, dan kosmetik segala rupa yang dijajakan
di billboard pinggir jalan hingga di jendela-jendela internet
hingga membuatnya terus menerus menebak:
sudah sempurnakah aku?
Jadi perempuan mesti hati-hati mengurus diri
membungkus, memupur, mengoles, menyusun bermacam-
macam mimpi kalau tak ingin sendiri dimakan sepi
Jadi perempuan mesti selalu memikul ketakutan
pada tangan jahil bos di kantor, pada lelaki yang memepetmu
di bis yang sesak, pada om berhidung belang berperut buncit
yang tiba-tiba saja merasa jadi bapak dadakanmu di mal-mal
Malam hari, takut pada sopir taksi, juga pada satpam rumah sendiri
meski sudah punya herder dan alarm model tercanggih,
tetaplah kunci ganda pintu kamarmu
sebab setan yang bernama lelaki selalu bisa mendeteksi hangat tubuhmu
selalu bisa menembus dinding perlindunganmu seperti sinar laser
yang memotong-motong privasimu
Jadi perempuan di negeri ini, sungguh susah untuk merasa senang lagi
C.20.2.00
Malam itu ia datang lagi.menggendong putusasanya ,mengepit
kekecewaannya yang panjang di ketiaknya yang gempal. Perempuan ini
dan
seribu perempuan lainnya baru saja pulang dari gedung majelis, minta
diberi satu atau dua kursi agar bisa menyuarakan keluhan sekaligus
harapan
Malam menggelindingkan kami pada lapar; sedari siang tak sempat
sentuh nasi box yang dibagikan seksi konsumsi. Sementara anak di rumah
berkali-kali menelpon; “Ibu lupa lagi menyiapkan makan siang dan makan
malam kita”. Lantas dijawabnya, “Kan ada supermie”. Klik, dimatikannya
handphonenya sembari menghempaskan segumpalan kertas kerja di atas
mejaku. Ia menatapku. Diamjenak. ia menghela napas, kecewa. “aku mau
nyerah”, katanya sangat lirih. aku diam. “aku sedang berjuang untuk
anak perempuanku agar kelak ia tidak diinjak-injak lelaki. Tapi
sekarang ia kelaparan di rumah “. aku diam.
“aku juga merasa jangan-jangan musuh kita bukan lelaki, sebab dari
lelaki aku dapat cinta bulat di dada, dari lelaki aku ada” aku
bertahan untuk diam. “aku tidak tahu kepada siapa kita berperang
kepada
siapa kita mesti marah,kepada siapa aku mesti memprote sebab aku
cinta lelaki.ia bapak anak-anakku. ia suami ibu yang kucintai”
sungguh,
tenggorokanku begitu gatal untuk segera menjawab. tetapi sekali lagi
aku berdiam dalam bijak
jauh dalam sayup senyap malam, aku dengar rintih istri diinjak
suaminya di depan anak perempuannya sendiri.”Ini bukan soal lelaki
atau
perempuan. ini semata soal seseorang menginjak-injak orang lain. Meski
ia bukan kita, kita bukan dirinya, tegakah kau bilang: bukan urusan
kita?”seseorang pernah mengatakan ini padaku
malam semakin dan semakin larut, sementara kami semakin larut dalam
rencana demonstrasi esok hari .aku dengar suara musik bercampur
dengkur
lelaki “aku kangen suamiku”. Entah siapa diantara kami yang
mengatakannya lebih dulu.
C.20.2.00
Aku ingin pulang
pada nafas guguran kembang ketumbar
tlah berapa musim kerut di ujung-ujung
senyummu, keriput tangan,
hangat pada pipi, tersimpan rapi
dalam kenangan
Membacamu dalam mimpi
adalah kepingan masa kecil
meloncat dari saku
Selalu meneduhkan;
seseorang tak putus-putusnya mencintaiku
begitu saja tanpa kuminta
C.23.00
Perjalanan ini berawal dari nada musik subuh menembus jendela dan
berakhir pada tanah tak bertepi.
Pencarian yang tak pernah berhenti meski pada sebuah akhir: kering
telapak tangan dan hati yang terus-menerus kepingin pergi; mencari.
Di bukit kesejukan dan janji menanti pendeta-pendeta berjubah ungu
menggengam kembang teratai.
Doa-doa ditaburkannya di ubun-ubunku. Sungguh, aku tak merasakan
apa-apa meski seruling menarik-narikku pulang kembali ke hati mereka.
Pada waktu yang tak kuingat, aku tiba di padang darah dan dendam.
Seperti juga nenek moyangku ratusan tahun lalu, anak-anak kecil
berbaju putih menanam dendam pada tanah-tanah sengketa. Perseteruan
ditulis dengan darah. Tak seorang pun berani menggugat; semestinyalah
bisa ada damai di sini, meski barang sejenak ketika aku lewat.
Pada bulan purnama entah yang ke berapa, seingatku aku bermukim di
kerajaan awan. Ibu-ibu menanam gandum di langit mendung dan
menyiraminya dengan air mata dua kali setahun. Pemuda-pemuda lajang
menanam layang-layang di langit dan melilitkan benangnya di leher
masing-masing.
C.5.2.00
tukang becak memeluk mimpinya sendiri
punggungnya basah,
adakah gigil di hati?
hujan bulan januari seperti
hujan bulan-bulan sebelumnya
terasa manis di lidah
adakah engkau juga rasakan?
C.19.1. 00
kita tak lagi menanam benih di ladang
tapi di pasar bursa dan kaki lima
anak-anak tetap melukis langit
dengan potlot warna-warni
pada layar monitor dan tembok tetangga
Seharian aku menanam impian
pada tembok-tembok Jakarta
menanam dendam pada jalanan
sorenya kukubur sepi
pada kerdip café
atau sendirian di wese
menghitung nafas yang tersisa
Selalu aku ingin kembali
pada segala yang tak lagi dimiliki
semacam kerakusan kah?
atau kesadaran telat?
bahwa sesungguhnya aku cuma
sebagian kecil dari deras arus waktu
c.27.1.00
‘Pernah kau rindu aku?’
Tiba-tiba pertanyaanku
ditertawakan langit
Sesungguhnya, lumrah sekali
beberapa ibu melahirkan bayinya
jauh di luar ingatannya
Membujuk diri sendiri, sungguh tidak mudah;
kau sedang memasak pepes ikan teri
dengan bumbu cinta menanti di beranda
kapan aku pulang ke pelukan teduhmu
Ibu bisa punya seribu wajah sejuta hati
ibu bisa jadi bulan dalam mimpi
lebih sering lagi ia jadi beludak
dalam kehidupan sehari-hari
kadang-kadang ia mawar
sekaligus duri batangnya
Ibu pasti marah kalau kuminta
sekali-kali jadi bunda theresa
Sesungguhnya sederhana saja,
kalau ia mencintaiku, aku tak kan ada
di perempatan jalan ini bersama
harapan-harapan berjatuhan
seperti gerimis
Sering aku bermimpi;
Ibuku adalah megawati yang menjual kharisma
Ibuku adalah karlina yang menaburkan air mata
Ibuku adalah khofifah yang membagikan kata-kata
Sekali-kali ibuku ada di antara perempuan-perempuan
berselendang sutera menawarkan nasi bungkus
Tapi tak satupun yang berani
menawarkan pelukan
Tak satu pun
C.23.1.00
melukismu,
aku tak punya warna apapun
selain marah menahun
tersisa dari terlalu sedikit masa
yang pernah kita miliki berdua
c.23.1.00
Ada sungai membelah rumah
Bermula dari retakan ubin dari teras hingga kamar tidur
Berbarengan dengan waktu dan cinta semakin menipis
menjelma sungai mengaliri duka ke muara entah di mana
Ketika saling membenci untuk alasan yang tak jelas,
kita lemparkan kursi ke sungai
Ketika sedang birahi, kita berenang-renang di arus hangatnya
Ketika kehabisan uang, kita tangkap seekor sepat gemuk
Anak-anak melayarkan perahu kertas
Sungai semakin hari bertambah menganga
Tetapi kau selalu bilang tak apa,
toh kita menikmatinya juga
Hingga subuh-subuh kudengar
anak kita tenggelam di sana
c.24.1.00
Nekat
( mengenang Tm)
Bermain layangan
langit mendung sekali
ada petir sesekali
geluduk lebih sering lagi
Tapi aku riang menarik ulur tali kama
kau di sana menari-nari
menggoda mendung
lebih ngamuk lagi
c.24.1.00
Sebuah rumah didirikan di atas tumpukan jerami kering
Dari batang jati dibentuknya tonggak
Dari ranting-ranting akasia dibuatnya dinding
Dari daun teratai segar jadilah kepingan jendela dan pintu
Lantas kita menanam rumput di lantainya
Daun-daun pandan jadi tirai, wangi sekali
Ketika angin menyelusup di sela-sela
Setelah bersusah payah mendirikan rumah,
mengapa kau masih juga kos di pohon belimbing
dan aku mengontrak pavilyun di kaki beringin?
where do the little beggars come from, mama?
why do they operate at the crossroads?
don’t they have to learn math and English
or have a wonderful time with friends?
the beggars come from the sky, honey
dropped by the typhoon
along main thoroughfares,
in front of shop windows
or near garbage dumps
from the sky? that must be
very close to heaven
but who are their parents, mama
why do the old people let their children
go down to earth to sniff pollution
and taste hunger
have the done anything wrong
that made the parents
furious and punish them
so hard, right-a-way?
no, dear
of course they love their children dearly
and yearn for healthy food,
clean clothes, cozy homes, and colorful toys
for their treasured children
although they live close to God up there
it’s still far away from heaven, honey
they have no power to go anywhere
only from the vortex of the storm
all they can do is just follow where
the hurricane takes them along
is anything we can do for them, mama?
(silence)
my mother is the sky
my father is the sun
and I am the wind
I assure you I never cry
(Really? So what about the drizzle?
Isn’t it your tears sprinkling down?
lewat bayang jendela toko
burung-burung gereja
bersuara malaikat
sabar menunggu
di sela-sela lentik bulu mata
berdebu
(Kapan aku berhenti
menendangi kaleng kosong itu?)
pada waktu pada senja
aku mesti mencuci kembali
bola mata yang semakin ungu
menyusun kembali kata-kata
berbaris rapi dan manis
bersama bulu-bulu alis
seperti hari-hari yang kususun
runut pada garis nasib
perempuan lainnya
kaleng coca-cola tak bisa ikhlas
kaleng coca-cola takut kehilangan
bunyinya, dan terus memprotes
“jangan pergi!”
“aku mesti pulang,’ bujukku
tetap saja ia menjerit
meraung-raung di pojokan jalan
ketika aku berbelok selamat tinggal
anak-anak burung gereja sibuk
membujuk kaleng yang semakin rombeng
dengan lagu keroncong anak jalanan
pada waktu
pada matahari
pada senja
aku mesti pulang
cobalah engkau mengerti
Ciputat 20 April 00
dan sangsi berantai
tertanam di setiap lekuk senja
tentang siapa dirimu datang menghandai
kudapat sepotong jawaban pada seekor semut yang rela direnggut maut
tentang kesabaran
akan berbuah sebongkah harapan
dan kuulangi lagi dalam kisi hati
terawangi langit biru
lepaskan haru biru diri
dalam tanah-tanah rindu
tumbuh senyummu
dan sesudut mata bernas memandang
ke dalam mimpi di antara tualang
- Akulah Malinkundang zaman
yang terbelah dari rahimmu! -
Lembaga rindu belahan sepi
dalam batu-batu nurani
dan selepas kata sepanas jiwa
ke dalam hati kubaca cinta
- Sudah leleh semua
tak ada tersisa! -
dalam cahya matamu, Neng Berdendang dengan angin dan selendang mayang tentang negri yang terbakar dendam
tentu engkau rasakan langit hitam negri ini akan luruh. sebentar nanti langit perak gemerlapan
antara percakapan rumput-rumput dan angin antara bayang-bayang dan selendang mayang di leherku dan wajah
bunda pertiwi dalam dada Langkahku semakin tertuju ke Gudang Peluru
langkah demi langkah berbagi antara kau dan bunda pertiwi
antara kantuk serdadu-serdadu penjaga dan nafsu ingin segra kembali padamu
ruang dada tentang arti gelora dalam perjalanan sejarah mendatang
selendang mayang berjalan menyusur pagi yang hampir tiba : Adakah engkau di sana mendengarkan kisahku,
Neng?
bayangmu makin menggoda Ingin saja kukembali dari Gudang Peluru dan datang padamu untuk mengajuk
waktu-waktu tersisa
Kita tebus kemerdekaan dengan menggadaikan cinta kita pada ladang-ladang mesiu musuh!”
agar tumbuh, Neng, agar selamat”.
perlahan terasa Mungkin juga seribu pemuda merasa ketika berpisah: Mengosongkan Bandung!
sambil sayup-sayup membakar tanah selatan
Aku rela”
tapi penuh kepastian dan tenaga. Granat itu kulepas Granat itu melayang di udara Berhasil kulempar! Granat itu
lepas! Granat itu melayang dengan anggunnya. Menembus subuh menerkam sasaran! Mataku tak pernah lupa
Granat itu meledak!
di tepi Bandung Selatan Mataku tak pernah lupa Granat itu meledak! Gudang Peluru itu musnah! Gudang Peluru itu
musnah! Bergelegar suaranya di Bandung Selatan
Ingin kutuliskan kisahku, ingin kuceritakan pengalamanku dengan selendang mayangmu dalam wangi rambutmu
dengan seluruh getar jiwaku menatap untukmu, Neng
Wajahnya hancur, tubuhnya luluh tak dapat dikenal Darah berhamburan di sana-sini Tapi aku kenal selendang itu,
bukankah selendangmu, Neng?! Bukankah selendangmu yang kupakai, yang melingkar di leher tubuh itu?
Sekali terbang dan sekali terbenam
Kusimpan salam untukmu, Neng!
Alun-Alun
dibanding tahun-tahun sudah
Antara kita ada segaris batas
menerkam baris-baris getas
Tangan kita tak pernah lagi dapat berjabat
sambil menaburkan hasrat
Kita tak pernah lagi dapat saling peluk
dan kau kucium pelupuk matamu
Kita selalu sibuk dan selalu sibuk
sambil kita selalu kembangkan kidung rindu
Perlahan kita semakin menua
mendekati puing-puing
kembali ke asal perjanjian kita
dengan segala macam hati yang geming
Kita terasa begitu jauh
kendati kita satu flat dan dipisahkan selembar dinding beton saja!
:
Di Balik Jendela
mandi siraman cahya mentari pagi Ketika jalanan masih lengang dan gigitan dingin mendera sumsum Orang berdua
menjala waktu
kita habiskan sisa mabuk menembus kelam Lepaskan keasingan diri dalam cengkraman sumbu bumi. Hampa Sehabis
katak-kata lepas tanpa suara
di balik jendela Kita menatap waktu
Gelisah
simpan gemerisik daun Bahasa sungai. Bergerak melanda batu-batu kali Bahasa angan. Bergerak jebak rasa siapa
pun Bahasa sangsai. Bergerak melanda datu-datu hati
mana angan yang kau terbangkan Sungai mana sangsai yang kau alirkan
gerak ragu Bahasa cinta hanya milikmu!
Rumah Tua
menyulam di kursi goyang. Sekali-kali lepaskan tatap lewat kacamata yang melorot. Kali ini semua jadi bangsi
memanggil-manggil. Aku lindap
begini mencari kembali rumah tua. Tak juga dapat
berkaca dalam bolamata nenek. Dan berangin-angin sambil melagukan kisahku. Semua jadi lekat. Semua
Semua belum berubah. Kecuali nenek tidur dengan tenang di samping halaman. Bernisankan batu sunyi. Batu kali
Semua tak lagi bicara apa-apa. Sepi seribu kali lebih terasa malam ini
Matahari
setelah seribu malam berjaga-jaga Lembar waktu. Aku berjalan meraba-raba di antara sekat kota. Keringat hari ini
membuat aku hitam. Tambah hitam di siang hari
mendera orang bisu. Orang diam. Siapa pun tak pernah tahu gagu jadi permainan
dalam seribu malam. Hari ini bukan permainan
jadi matahari. Keringat tak bisa diamkan nurani bila kelam menyibak malam. Nanti sepi. Lari ke balik waktu sia-sia
Di Depan Bulan
Di Tepi Saguling
mengarak musim bertahun-tahun Di sini air menangkap pantul kilat malam hari sambut sepi yang jatuh ke dalam
danau Ke mari Rasakan kata-kata yang meluncur sendiri menyibak riak hidup. Semua. Galau! Embun turun basahi
udara Waktu. Titian tak pernah henti bagi orang dalam perahu. Dalam topi lebarnya menunggu. Siapa tahu dapat
ikan besar? Nasib. Semua orang boleh saja gusar kalau permainan kayuh semakin tidak menentu lagi Diam biarkan
air dan angin berkaca di depan bulan dan kita nikmati dari tepi Saguling
kurangi rasa. Berat langkah untuk bangkit ke depan. Apa masih perlu bergerak saat ini?
tak pernah kurang. Kita duduk sambil rasakan asin keringat sendiri Lepaskan baju. Telanjang berkaca pada waktu
Sampai di mana perjalanan yang telah kita lampaui?
tersimpan sambil menghitung untung-rugi Kapan kita akan sampai?
Sedang jalan masih juga jalan yang dulu.
Berumah di Tepi Sungai
menghampar rona potret rumah-rumah kumuh milik pekerja yang banting tulang sehari semalam untuk
menundukkan kehidupan ibukota Dari beningnya cermin ini Aku berkaca pada angan-angan yang bermain pada riak
air tengah hari ditemani alunan musik ‘compact disc’ Aku merasakan tinggal dalam kerangkeng!
yang berderap setiap waktu untuk berpacu
tidak ada angin cuma belaian ‘air conditioner’ bercampur asap rokok dan berhitung cermat untuk melangkahi
pertarungan demi pertarungan sambil berharap mengibarkan bendera kemenangan
dari kamar yang terletak di lantai 20 ini tidak pernah bertanya lagi langkah esok pagi selain siap bertempur dengan
rancangan sesuai aturan
sepi memanggil-manggil …
Sebab
Sungai mengalir deras dalam aortaku Menghilirkan pencalang rindu Mengembara ke samudera hidup Sebab angin
menerpa masa laluku Menerbangkan angan-angan Rasa melayang-layang Berbisik dan berlalu Sebab angin masa
lalu melahirkan gelombang Di tengah samudera hidup Angan melayang-layang Melihat pencalang rindu karam.
Tenggelam
Mengenang Ayahanda
Sementara rindu berpacu. Aku pun ragu Setelah waktu berjalan sudah. Aku lelah mencari kata tanpa bertemu.
Beku dalam windu demi windu suaramu membakar setiap jengkal dada tiada kalimat yang dapat merapat. Hati
terjerat Ayahanda Aku ingin sekali mendekat
lapang Semakin lelah. Semakin lelah. Semua menjadi bimbang dan darah beku menggumpal-gumpal. Semua tinggal
impian Ayahanda Aku di sini masih mengurai seribu cerita dan membaca sejuta makna dalam katamu saat menyisi…
Malinkundang
meniti masa mabuk di antara bayang-bayang Tinggalkan malam kelam dan sambut pagi cerlang dengan mentari
garang membakar setiap hati yang bimbang
Sudah terbentang ribuan kali rindu yang terpendam Hati tak pernah diam
Begitu rindu aku ingin kembali Makin jauh langkah. Makin bisu Aku kehilangan kendali
Tinggalkan masa kelam selusuri kubang pilu dan kini melangkah dengan dagu diangkat ke atas Tinggalkan
masa-masa lapar, dahaga dan papa dan kini sarapan di Le Meridien, makan siang di Tunglok dan santap malam di
Mandarin Tinggalkan tidur dengan mimpi-mimpi panjang dan kini dunia di atas telapak tangan Seribunda digjaya
telah Kau beri
mimpi dalam setiap tidur panjang Kalau Kau sandingkan aku dengan Madonna yang dimimpikan semiliar laki-laki di
jagat ini dibanding dulu, Siti Rahmah –bunga desaku– tak sedikit pun melirik sebelah mata padaku Kalau Kau beri
aku Baby Benz yang melaju tenang di jalan tol sedangkan dulu kaki lepuh terus berjalan mengembara ke ujung
rantau Nyaris semua telah Kau beri Namun diriMu Kau simpan jauh-jauh. Jauh
Ingin merentak dendam ketakberdayaan Setelah berhasil melepas rantai yang mengekang ratusan tahun Setelah
puluhan tahun dininabobokan barang rongsokkan Jepang Sedang di depan menghadang ribuan kembara alang
kepalang Langkah dalam denyut informasi Jalan panjang pasar global menghentak-hentak Akankah aku melaju
dalam jalanMu?
Malinkundang itu yang minta izin Ibunda pergi tinggalkan tanah mencari rantau membangun mimpi dari hari ke hari
Akulah Malinkundang itu yang membangun negeri namun kehilangan diri
dengan pesawat jet pribadi dan Madonna menjadi menantumu dan Michael Jackson mendendangkanmu dan seribu
remaja mabuk ecstasy sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dalam pesta kembalinya anakmu dan
mendengarkan ‘house music’ melangla Aku tetap anakmu Kalau hari ini aku kibarkan kutang kucalmu yang pernah
kusibak saat menyusu dulu dan sejuta manusia perlahan mengangkat tangan dan memberi hormat Semua adalah
milikmu. Seperti peluru yang siap menerjang, aku datang, Ibunda, aku datang dan semakin dekat. Semakin
mendekat
yang harus menjinakkan kata dalam kalimat panjang meredam luka yang makin meruyak Akulah Malinkundang itu
yang harus berlayar dalam fikir dan rasa melupakan cinta yang boyak Akulah Malinkundang itu yang kehilangan
perempuan saat mendekapnya dan mencium jalan-jalan. Lengang
Setelah kutinggalkan kampung halaman berikut dukananya Kutimba jalan dalam sejarah diri. Kubakar jiwa
membenamkan papa Kusingkap hidup. Kusongsong hari demi hari dengan dada busung bukan terbenam di ‘fitness
center’. Kuraba sepi yang limbung Aku terseok-seok di kaki lima sambil menjaja barang yang ada di antara razia
dan perburuan Tramtib yang suka menggoda kaum jelata dan menunggu kesempatan hidup naiknya roda Ingin
kurasakan luka panjang ini nanti, saat derai tawa membahana Dari waktu ke waktu dan menyisihkan laba demi laba
serta berani menerima risiko lebih tinggi. Aku meniti tangga Perjalanan memang bukan sebentar seperti lautan luas
mendekap sang kapal layar dipermainkan ombak dan angin dipermainkan kehendak dan ingin
yang masuk bangku perguruan tinggi sambil berdagang kaki lima mempertaruhkan ijazah untuk memutar roda zaman
Akulah Malinkundang itu yang terlunta-lunta dari kantor ke kantor merasakan realitas: Tiada berarti selembar ijazah
untuk bekerja seketika merobah hidup tinggalkan papa Akulah Malinkundang itu yang bergelut dengan keringat dan
airmata menaklukan ibukota dan segala permasalahannya untuk membangun istana rindu bagimu, Ibunda!
tak pernah kau mengerti namun semangat dan jiwaku terus mengembara entah ke mana. Tak berhenti Kalau malam
ini, Malinkundangmu tampak di layar TV dan seribu wartawan bertanya ini-itu sambil sebarkan gosip Percayalah,
Malinkundang itu anakmu Bagaimana malam ini kita duduk bersama di pinggir kolam Hotel Horison sambil menikmati
‘seafood’ dan cerita panjang tentang pasar bebas Kita bisa tukar pikiran bagaimana meninggalkan industri tekstil
yang penuh barikade kuota ekspor dan masuk ke dalam jantung komputer Boleh saja percaya Naisbitt atau kembali
ke para normal Jayabaya dan orang-orang Jawa setiap hari membangun mimpi dengan mimpi dan mimpi-mimpi
Percayalah, Malinkundangmu akan kembali…
bukan lagi pakai jeans belel dengan T-shirt kucal dan mengendalikan Hardtop tapi pakai tuxedo dengan sepatu
Bally mengkilap dan turun dari Roll Royce Akulah Malinkundang zaman yang berani melepas sebagian saham
perusahaan ke pasar modal dan memainkan dana demi dana untuk melahirkan dana dan dana lagi Akulah
Malinkundang zaman yang berfikir dengan prospek dan mencium setiap gerak langkah keadaan sambil
mengolahragakan jantung setiap waktu berdetak memacu atau tenang-tenang saja sambil menghirup nafas lega
karena cinta pada kehidupan bukan pada perjudian Akulah Malinkundang zaman yang berladang di berbagai sektor
disebut-sebut sebagai diversifikasi dengan seribu eksekutif muda bernaung di dalamnya dan kesempatan cuma
sekali datang selebihnya mimpi gelap yang tak pernah sudah Jadi, ambil dan menang atau kalah sudah biasa dalam
pertarungan
Kini aku pulang Setelah gelombang datang dan berenang di antara debur ombak kemudian pergi menghilang Saat
semua sudah di tangan Kini aku pulang karena berjalan bukan sekadar di padang perburuan Cuma ingin kuburkan
rindu yang terbakar Saat semua sudah di tangan Kini aku pulang
titip salam buat Bill Clinton
dunia ambil bagian Seberapa bisa bicara 27 rudal AGM-56 dan Tomahawk yang terkendali menjelajahi sasaran
berjarak jauh dan seberapa bisa terdengar tangis perempuan dan anak-anak setelah dentuman demi dentuman
menyapa tanah Sadam Hussein Barangkali lewat ‘rally-rally’ kampanye yang panjang dan suara serakmu, Clinton
Ada suara tangis perempuan dan anak-anak Yang jelas, suara itu bukan suara-suara Yankee manis! Sederet
panjang alasan dapat dipaparkan dari meja perjamuan penuh cocktail dan brandy untuk membumihanguskan
ketidak-berdayaan (Mengapa B-52, kapal Shiloh dan Laboon tidak banyak bicara saat pembantaian ras di Bosnia
sana?) Seberapa banyak air ludah tumpah mengumbar janji untuk mendapat kepentingan pribadi, memperpanjang
waktu di kursi kepresidenanmu? Jika miliaran manusia dulu menggantung harap padamu, Clinton agar lebih
manusiawi ketimbang George Bush dan dunia lebih demokrat Kini wajahmu mirip kayu congklak yang biasa
dipermainkan anak-anakku Terlalu banyak lobangnya, Bill Lupakah dirimu, Bill George Bush sudah frustasi
menghadapi Sadam Hussein dan engkau pun tidak pernah bisa menangkapnya, bukan?! Ayolah, Bill Kita semua tahu
Sadam Hussein kelimpungan cari obat-obatan dan makanan setelah hukumanmu yang terlalu memberat-beratkan
Lantas, Bill dari ketidak-berdayaan Sadam Hussein itu Seberapa lagi kebinatanganmu tumbuh setelah hak asasi
manusia untuk hidup dibumihanguskan oleh suara serakmu. Ayolah, Bill pamer unjuk kekuatanmu bukanlah di
ladang-ladang Irak Ikutlah olimpiade dan berlombalah di sana karena engkau bukanlah wasit dunia
Kepada Aria Kusumadewa
perjalanan hanya lorong lengang tanpa orang Setiap kata ingin dieja dalam bunga malam penuh busa dan kelu
menjadi warna setiap pertemuan Barangkali bukan sekadar mata dan tali kasih perempuan yang menjura-jura ketika
terjaga. Rasa menjadi bayang-bayang selepas mentari datang Kemudian dada lapang songsong langkah raja siang
kembali pada nurani Ketika sepi menyisi perjalanan terekam dalam igauan antara kata dan lubang kamera tersimpan
tualang jalang
dengan mengepulkan asap mimpi lewat rasa dan mata angin Kita luncurkan bualan lain dalam permainan igauan
karena cinta tidak selalu perempuan dan perempuan
yang rahasia selalu terjaga
Kepada Tuan Marzuki Usman
melontar tanya yang selalu mengganggu tentang Abu dan Badu, dua orang di antara 190 juta penduduk Indonesia
Kerjanya sektor informal tidak terkena objek pajak Penghasilannya, pas-pasan UMR pun tak berkutik Berkediaman di
rumah gombal Kata orang, tipe RSSS alias Rumah Sangat sempit Sekali
pemilik ratusan perusahaan Sektornya sektor formal dari hulu hingga ke hilir Dari PPhnya sudah ketahuan Termasuk
Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar Berkediaman di Pondok Indah, lagi
Selalu tanya mengganggu Siapa lebih kaya di antara keduanya?
Keringat habis terperas Satu hari pas Abu cuma sanggup beli beras Satu kilogram Harganya Rp 1.500 di pasar
Namun Badu bisa membeli saat batang padi masih menghijau di sawah dan diborong berhektar-hektar Cuma
harganya Rp 500 per kilogram
Anak-anak Abu ingin menonton Pergilah Abu ke toko membeli televisi hitam-putih Dalam kuitansi tertera PPn 10%
Namun Badu saat oknum mengambil SPT-nya di rumah Badu Menyelipkan pelicin sehingga PPhnya menciut sekecil
mungkin Begitu pun termasuk Pembayar Pajak Perseorangan Terbesar
yang kata orang berharga itu Bagi Abu pergi ke Tanah Abang untuk berdagang Bisa menghabiskan berjam-jam
karena keenakan berhimpitan dalam bis kota di tengah kemacetan ibukota Namun Badu pergi ke kantornya di
bilangan Segi Tiga Emas Jakarta Cuma 15 menit dari rumahnya menggunakan Baby Benz lewat jalan tol, tentunya
dalam urusan penyelesaian KTP Bagi Abu mengurus perpanjangan surat sakti itu, yang selalu ditanyakan Petugas
Kamtib, yang tarif resminya Rp 1.000 Oknum-oknum meminta bagian sampai Rp 30.000 dan selesainya sampai 6
bulan Namun Badu cuma keluarkan dari kocek Dua lembar Rp 50.000-an dan KTP baru diantar ke rumah 2 jam
kemudian
Bagi Abu, kalau bisa beli mobil Pasti mobil kelas Mazda Kotak Sabun Yang tahunnya kelewat tua dan setiap 3 bulan
langganan bengkel menghisap dana perawatan lumayan besar untuk kantong Abu Namun Badu sudah
menjadwalkan Setiap awal tahun beli mobil baru dan akhir tahunnya segera dijual Biar tidak masuk bengkel,
katanya
termasuk membayar bunga Bagi Abu memasukkan anaknya sekolah ke perguruan tinggi Memang cita-cita merobah
nasib Cuma Abu rela pergi ke Perum Pegadaian Menitipkan agunan senilai 4 kali pinjaman dengan bunga 4% sebulan
dengan masa hangus 6 bulan Namun Badu saat membangun perusahaan barunya, kata orang, diversifikasi usaha,
datang ke bank cuma bawa studi kelayakan tanpa agunan dan kredit ratusan miliar mengucur dengan sukubunga
paling tinggi 20% Malah seringkali negosiasi, lebih rendah lagi dengan masa pengembalian sedikitnya 5 tahun Kalau
pun macet, utangnya bisa dihapuskan
Bagi Abu mengabarkan berita pedih kepada ayahnya di kampung tentang kematian adiknya saat tertangkap tangan
mencopet, yang paling cepat pergi ke Wartel dan menginterlokal ke Kantor Kecamatan, sekitar 3 KM dari kampung
halamannya, karena telepon baru sampai di sana, sebagai salah satu keberhasilan IDT Sambil terbata bercakap
dengan ayahanda matanya mendelik ke arah digit demi digit yang bergerak Angkanya sudah ratusan pulsa Namun
Badu saat pesan kiriman barang dari luar negeri cukup dengan masuk ke internet dan pulsanya cuma puluhan
Siapa sebenarnya yang lebih kaya di antara keduanya…. Abukah? Badukah? Ya, anggap saja ini bukan
omongkosong di antara kita
Berita Pagi
Kuburan Massal sekitar 3.000 hingga 8.000 mayat Muslim Bosnia dibantai pasukan Serbia pimpinan Ratko Mladic di
Srebrenica dalam perang pendek tahun 1995
ada upaya-upaya menghapus jejak pembantaian sekitar 3.000 mayat Muslim di Bracko, Utara Bosnia dengan
memasukkan mayat-mayat itu ke truk-truk berpendingin dan diangkut ke bekas pabrik daging, Bimeks, produsen
pakan ternak
saat melihat padang pembantaian ini Padahal setiap detik dalam sidang PBB selalu penuh dengan busa tentang
hak-hak asasi manusia
Bukakanlah mata mereka
Sajak Oktober
Kita sudah tidak bisa membaca tanda-tanda. Setiap kali lewat mengangkut mimpi ke padang gembala Biarlah
sudah! Tidak ada persahabatan atau hiasan kata-kata mutiara. Selain serapah dengan rasa paling transparan.
Tanpa basa-basi Hidup bukan ladang sangsi, kendati semua tidak ada yang pasti Bayangkan. Begitu banyak
angka-angka bercerita tentang seribu kisah dari sejuta manusia yang terdampar di pelabuhan meja. Kuasa jiwa tak
pernah terjaga dan hati semakin tipis. Tidak ada yang bisa membaca lagi Kata-kata sudah musnah Kita hanya
melangkah dari suatu ladang sangsi ke ladang sangsi lainnya Semakin jauh Semakin jauh
Ketika Kata
gerimis sehari menghapus setahun kemarau galau, kudekati kata di dalam matamu yang mengatup ketika senja
lewat begitu saja. Seperti rimba kata yang menyesatkan dalam kembara hati dari sudut matamu dan melangkah
ringan di antara pohon-pohon dan bau tanah Seperti gerimis yang membasahi hatimu setelah setahun galau
menunggu langkah yang tak pernah kembali dan sudut mataku terpaku padamu dari balik istirah di antara
daun-daun lebar dan suara-suara hewan. Seperti engkau masuk rimba melupakan kosmetika dan stocking, aku
semakin heran atas penderitaan yang dipaksakan namun kau senangi. “Aku masuk rimba bukan seperti kijang
masuk kampung yang bingung,” katamu dalam nada penuh yakin tanpa tedeng aling-aling. Seperti
sehari tangismu menghapus canda setahun yang manja dari balik wajah itu, aku semakin heran karena sorot mata
dan kata-kata semakin misteri ke balik airmata. “Aku semakin mengerti makna tangis sehari di antara senyum
manja dan peluk rindu setahun penuh,” kataku sambil mencari-cari kata yang paling tepat untuk mengajukmu.
Sungguh!
Sebaris Gerimis
membasahi kembara panjang Seorang tualang menjelang petang belum juga mabuk mereguk waktu dalam sepi
meniti jarak dan menggali mimpi lagi. Masuk ke pintu rindu dengan mata menyala-nyala. Buta Ketika sukma
menembus sela-sela hujan Bisu pun beku Aku berlari menyelimuti dingin dan kembali mencari-cari ke dalam hati, ke
dalam jantung Engkau sudah jauh berlalu Sebaris gerimis menetes dari balik rambut yang basah Mata berpendar
menatap bayang-bayang menghilang dan aku di sini Sendiri
Dari Jauh
terjaga dari kantuk berat dan menatapmu sebaris tampak dan sebaris hilang
menuju hari ke tiga puluh membakar sangsi Engkaukah yang melangkah sebarkan rindu dan mendekat? Seribu mata
mengiring desah kereta dan luka terbelah seribu Aku rasakan basahnya udara pagi dalam nafas hari petang
Rel panjang ini tetap dingin di sandaran balok-balok kayu bercerita panjang tentang kedatanganmu dari jauh. Dari
jauh Di mana kata tak ada lagi Bangsi kehidupan sudah lama membisu
Begitu rindu mata menawarkan sepi
Jakarta, September 1996
Antara Cawang-Cikampek
canda dari dalam kalbu. Rindu menyebar ke setiap centimeter kubik darah dan memancar lewat mata. Jauh
Lengang. Barangkali musik menjadi teman dan mulut selalu menyebut: Allah! Allah! Allah! Sebelum warna membiru
memerangkap waktu menjadi kaku dan rindu memancar jauh berteman lengang. Sungguh! Semua datang
mengantarkan rindu
Allah! Allah! Allah
Kepada Alfatihah RMNSPM
Sejarah tersimpan dalam-dalam. Maut pun menegur sisa rindu Ketika malam hampir datang dan bayang-bayang
terbenam dalam kelam. Aku melangkah patah-patah Melihat jejak dalam sejarah: Hitam Barangkali aku ingin duduk
ditemanimu dan bacakan kisah panjang tentang cahaya sambil memijat kaki memecahkan tumpukan asam laktat di
aorta Sungguh! Ketika malam menjadi bunga. Api membakar sejarah Hati terpanggang. Wajah lembam dan
menyerah Barangkali aku benar-benar lelah
bacakan doa dalam setiap






awah bagus nih…kenapa ngak bikin antologi puisi…stensilan jg ngak apa apa
========
========
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SINI: http://www.leoxa.com/
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
========
========
rame yang udah berpindah daripada blog-blog lainnya ke blog Leoxa.com karena theme yang keren
Hanya berkarya Ringan, Skrang kalau semuanya diliat bagus kapan kita akan puas dengan diri sendiri
sorry bro….
kapan2 dech pindahnya
wah kalau bikin antologi puisi boleh juga seh , liat ntar dech , doain ya skrng lagi ujian nih
thank’s pada bro……